
nubangkalan.or.id—Kasih sayang dan empati terhadap sesama adalah pintu harmoni yang bisa mengantarkan pada kebahagiaan sejati dalam kehidupan. Dengan menanamkan rasa kasih dan peduli orang lain, kita dapat menguatkan hubungan sosial yang tentram dan lebih damai.
Upaya menghindari perbuatan yang membuat tidak nyaman tehadap lingkungan sekitar juga perlu dilakukan, karena peduli tidak hanya tentang membantu yang lain dengan tenaga, melainkan bagaimana cara agar kita tidak membuatnya terganggu meski hanya dengan sebatas kata.
Perasaan kasih tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga terhadap semua makhluk hidup di bumi yang juga ciptaan Allah ﷻ, karena sejatinya semua yang Allah ﷻ ciptakan akan merasa tidak nyaman andai diperlalukan dengan tidak seharusnya.
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi berikut sangat cocok sebagai prinsip hidup perihal mengasihi sesama makhluk:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهمُ الرَّحمنُ، ارحَمُوا من في الأرضِ يَرْحْمْكُم مَن في السّماء.
Artinya: “Orang-orang pengasih adalah mereka yang dikasihani oleh Dzat yang Maha Pengasih. Kasihanilah penduduk bumi, niscaya engkau akan dikasihani oleh yang ada di langit.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad)
Hadis yang cukup menarik sebagai motivasi kita bersama untuk menjadi orang yang peduli terhadap sekitar, entah itu manusia, hewan, atau bahkan tumbuhan.
Pemahaman yang dapat diserap dari hadis yang cukup singkat di atas sangat agung dan sarat akan makna, bahwa Allah ﷻ akan mengasihi semua orang yang mau berbelas kasih kepada yang lain, dan kemudian ada instruksi setelahnya bahwa hendaklah kita semua mengasihi yang ada di bumi, niscaya kita akan dikasihani oleh yang ada di atas langit.
Maksud dikasihani dari keterangan di atas tentu tidak seperti pemahaman pada umumnya yang hanya sebatas kasihan, dengan dikasihani oleh yang ada di langit, besar harapan kita akan mendapatkan pertolongan dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sehubungan dengan hadis ini, terdapat kisah yang sangat menginspirasi. Di perkotaan Madinah, Sayyidina Umar ra sedang berjalan menikmati pemandangan kota Madinah yang begitu asri nan indah sembari meresapi keagungan Tuhan di setiap sudut pandangannya.
Tak sengaja beliau melihat sosok anak kecil yang sedang asik penuh tawa bahagia sambil memainkan se ekor burung pipit yang mulai lugu setengah tak berdaya dalam genggaman tangannya.
Melihat pemandangan tersebut, beliau merasa tidak tega terhadap burung tak bersalah itu diperlakukan dengan yang tidak seharusnya, akhirnya beliau membeli burung itu dan kemudian dibebaskan agar ia bisa hidup bebas tanpa gangguan seperti burung lainnya.
Setelah Sayyidina Umar ra wafat, ada banyak ulama bermimpi bertemu beliau.
Ulama bertanya, “Apa yang Allah perlakuan kepadamu?”
Sayyidina Umar menjawab, “Allah telah mengampuni semua dosaku.”
“Dengan sebab apa, sebab kedermawananmu, keadilan mu dalam memimpin, atau karena sikap zuhudmu?”
Seketika Sayyidina Umar memberi jawaban secara detail,
“Ketika orang-orang meletakkanku di dalam kubur dan menutupi dengan tanah, kemudian meninggalkanku sendirian, tiba-tiba ada dua malaikat yang sangat gagah datang menghampiri. Seketika kepalaku pusing lengah berpikir, dan semua persendianku gemetar menggigil melihat kegagahan kedua malaikat tersebut.
“Saya diangkat dan disuruh duduk, bermaksud untuk ditanya persoalan alam kubur, tiba-tiba aku mendengar suara panggilan seperti dari handphone, ‘biarkanlah hambaku yang itu dan janganlah engkau menakut-nakuti, saya telah mengasihaninya karena ia telah mengasihani se ekor burung pipit di dunia, maka sudah sepantasnya ia mendapat belas kasih dariku di akhirat’.”
Kisah ini sangat mencerminkan betapa sangat penting dan berharga sekali mengasihi orang lain, rasa peduli Sayyidina umar ra yang hanya pada se ekor burung namun dapat mengungguli perbuatan baik lainnya, sehingga alasan pertama Sayyidina Umar ra mendapatkan pangkat dan kedudukan yang mulia di akhirat adalah karena belas kasihnya terhadap burung itu.
Padahal, jika dipikir sekilas, hanya se ekor burung, hanya dilepaskan bukan dirawat, dan hanya membuatnya agar tidak terganggu bukan memberikan kenyamanan lebih. Namun, apalah daya, kisah ini, Allah ingin jadikan perantara untuk mengingatkan hamba-Nya untuk tidak pernah meremehkan hal-hal kecil yang diperbuat, entah yang baik ataupun yang buruk, semuanya akan mendapat balasannya masing-masing sesuai perbuatannya atau bahkan lebih dahsyat. Sesuai dengan yang sudah di firmankan Allah.
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ ٧ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ٨
Artinya: “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7)
Dalam sebuah hadis yang cukup populer disampaikan:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya: “Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.
“Siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya…” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajak kita bersama untuk sama-sama berpikir bahwa mengasihi orang lain tidak hanya tentang bersikap baik terhadap sesama, melainkan juga berarti meringankan beban orang lain yang membutuhkan pertolongan kita, sehingga dengan demikian inti hadis barusan bisa kita dapatkan.
Hadis yang serupa juga disabdakan oleh beliau,
من لا يرحم الناسَ لا يرحمهُ الله
Artinya: “Siapa yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayang Allah.” (HR. Al-Thabarani)
Jadi, kesimpulannya masih dengan bahasa yang sangat rasional. Orang yang tidak mengasihi manusia, maka tidak akan dikasihani oleh yang maha kuasa. Artinya, jika kita ingin mendapatkan rasa belas kasih dari Allah, maka hendaklah berbelas kasih terhadap ciptaan Allah. Wallāhu a’lam bisshawāb.
Penulis: Amir Ibrahim, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam, Durjan, Kokop, Bangkalan, Jawa Timur
Editor: Syifaul Qulub Amin, Pengurus LTN PCNU Bangkalan


Comment here