
“Andaikan beliau tidak memiliki karamah apa pun,” tulis Kiai Ahmad b. Shiddiq Al-Pasuruani (w. 1972 M) mengenang gurunya, Kiai Khalil Bangkalan (w. 1925 M), “selain bahwa mayoritas orang Nusantara—dengan bahasa yang berbeda mulai dari Jawa, Madura, Sunda, dan beberapa Melayu—adalah murid Kiai Khalil, baik dia sendiri, ayahnya, dan bahkan kakeknya, maka niscaya hal ini sudah cukup.”
Salah satu hal yang belakangan sangat populer dari Kiai Khalil adalah karamahnya. Akibat kisah-kisah karamah ini, masyarakat mengenal beliau sebagai seorang guru sufi yang jadug dan sakti mandraguna. “And (he) was especially renowned,” Martin van Bruinessen menulis ttg Kiai Khalil dalam Encyclopaedia of Islam, “by his clairvoyance, supernatural powers, and his eccentric behaviours.”
Dalam bagian lain, Prof. van Bruinessen menulis: “Tapi mayoritas orang yang datang ke pesantrennya tak diragukan lagi karena tertarik akan reputasinya dalam ilmu kanuragan, kekuatan supranatural.”
Kenangan seperti ini tak bisa disalahkan. Buku biografi beliau yang terbit pada peralihan abad 21, Surat Kepada Anjing Hitam, hampir lima puluh persen dari isinya adalah kisah-kisah kesaktian beliau – alih-alih biografi intelektual, buku itu lebih mirip dongeng semata. Acapkali saya menemukan artikel anonymous di internet yang mengisahkan karamah-karamahnya. Karamah ini seringkali bersifat anekdotal dan berlatar di pesantrennya. Tokohnya biasanya adalah santrinya, orang Tionghoa, atau pun juga orang Belanda. Saya bukan hendak menolak karamah, tidak. Karamah adalah bagian dari akidah saya sebagai orang NU.
Tapi khusus untuk Kiai Khalil, saya sepakat dengan Kiai Ahmad bahwa karamahnya yang terbesar adalah murid-muridnya. Di muka sudah saya tulis bahwa Kiai Ahmad menyaksikan santri Kiai Khalil kadang-kadang tiga generasi: anak, bapak, dan kakek. Di tulisan ini saya hendak mengkompilasi dua dan tiga generasi yang mondok ke beliau. Tulisan ini tidak lain dalam rangka meluruskan lagi arti karamah yang tersemat di dalam diri beliau.
(I)
K.H.M. Shiddiq (w. 1934 M), KH. Ahmad Qusyairi (w. 1972 M), KH. Ridwan (w. 1971 M). Tiga nama ini adalah tiga generasi yang mondok kepada Kiai Khalil. Diawali dgn Kiai Muhammad Shiddiq yang menjadi santri generasi pertama Kiai Khalil. Beliau berasal dari Lasem dan kemudian mendapatkan petunjuk dari Mbah Khalil untuk pindah ke Jember. Tak lama putranya, Kiai Ahmad Qusyairi, juga pergi mondok ke Bangkalan. Nama terakhir ini adalah kiai ‘allamah yang produktif. Setidaknya yang saya tahu beliau punya empat karya, yang paling fenomenal adalah nazham Tanwir al-Hija. Syair fikih ini pernah disyarah oleh gurunya, Sayyid Muhammad ‘Ali bin Husain Al-Makki, mufti Mekkah yang menguasai Mazhab Syafi’i dan Maliki. Selain itu beliau juga seorang penghafal Alquran – saya pernah menemukan naskah ijazah Alquran dari Kiai Khalil untuk beliau.
Dalam salah satu manuskrip yang saya baca di kediaman putranya, Kiai Hamid, saya menemukan catatan madah berbahar rajaz yang disusun Kiai Ahmad untuk gurunya. Ia menulis madah tersebut ketika berada di Perahu Abeto:
وليس لي من عمل إلا ببر * كة ولي صالح بحر وبر
أعني به الشيخ الخليل البنكلان * فمقامه قريب من صاحب جيلان
“Aku tak memiliki amal apa pun kecuali itu semua berkat seorang wali saleh yang alim dan bakti, yakni Syaikh Kholil Bangkalan yang makamnya mendekati Wali dari Jilan,”
Kiai Ahmad ini juga adalah mertua dari seorang wali masyhur, Kiai Abdul Hamid Pasuruan (w. 1982 M). Tak lama kemudian, putra Kiai Ahmad Qusyairi yang pertama, yakni Kiai Ridwan juga mondok ke figur yang sama. Seperti ayahnya, Kiai Ridwan juga seorang penghafal Alquran.
(II)
Sayyid Salim, Sayyid Ahmad, Sayyid Husain Aalu bin Jindan. Tiga nama ini adalah, cucu, ayah, dan kakek.
“Aku mulazamah kepada Syaikh Khalil berkali-kali,” tulis Sayyid Salim dalam Al-Khulashah Al-Kafiyah (vol. I, hlm. 35) sebuah buku yang masih berbentuk manuskrip tentang sanad-sanad Sayyid Salim, “aku mengunjunginya dalam rangka mencari ilmu dan mendengarkan (hadis). Ayahku juga mengunjunginya. Begitu juga kakekku.”
Menariknya, Kiai Ahmad Qusyairi dan Sayyid Salim pernah terlibat polemik tentang menerjemahkan khutbah Jumat. Mengenai ini keduanya pernah menggubah arjuzah tentang hujjah-hujjahnya. Sayyid Salim membolehkan menerjemahkan khutbah Jumat. Sementara Kiai Ahmad cenderung untuk tidak menerjemahkan khutbah – sebuah mawqif yang juga dipegang oleh gurunya, Kiai Khalil.
(III)
Kiai Imam b. Mahmud Karay (w. 1921 M), Kiai Dahlan b. Imam (w. 1970 M)
Kiai Imam Karay dari Sumenep adalah termasuk santri awal Kiai Khalil. Konon ketika beliau mondok, santri Kiai Khalil masih 20-an. Kiai Imam juga termasuk ulama yang produktif, setidaknya beliau memiliki dua karya: Risalah Manasik Haji dan Arjuzah ‘Aqa’id al-Iman. Kiai Imam adalah salah seorang yang dekat dengan Kiai Khalil. Dalam diarinya yang masih manuskrip dan tersimpan di rumah keluarga, beliau pernah menulis bahwa sekitar 1892 M beliau pergi haji bersama Kiai Khalil dan keluarga.
Putra Kiai Imam, yakni Kiai Dahlan juga mondok di Bangkalan. Namun demikian, Kiai Imam Karay adalah salah satu dari santri Kiai Khalil yang ia akui kealimannya. Dalam salah satu surat, Kiai Khalil memanggil santrinya ini dengan sebutan “Kiai Karay Al-Haj Imam – la zal naffa’an li al-thalibin wa al-muslimin” (Kiai Karay Haji Imam, semoga senantiasa memberi manfaat kepada para santri dan kaum muslim). Lebih dari itu, Kiai Khalil pernah memondokkan putranya, Kiai Imran, kepada Kiai Imam.
(IV)
Kiai Yasin b. Rais (w. 1932 M), Kiai ‘Abd Allah b. Yasin (w. ?)
Informasi bahwa Kiai Yasin b. Rais adalah murid Kiai Khalil saya dapatkan dari catatan pribadi Syaikh Yasin Al-Fadani. Sementara putranya, Kiai ‘Abd Allah b. Yasin adalah seorang kiai yang kerap kali berpolemik dengan Hadrat al-Syaikh Hasyim Asy’ari. Kiai ‘Abd Allah pernah menulis beberapa kitab mengkritik Kiai Hasyim. Bahkan dalam Al-Ijadah ia menggubah syair mengkritik kakak kelasnya di Bangkalan itu dengan keras:
شيخ وهى شم أنه بزيادته * قد زاد وهيًا في انتصار جماعته
“Orang tua yang pikun, lihatlah, dalam kitab Ziyadah-nya (maksudnya Ziyadat al-Ta’liqat karya Kiai Hasyim), ia justru semakin membantu kesesatan jamaahnya (maksudnya NU).”
Pasca menjadi tokoh yang mengampu Madrasah Sunniyyah di Pasuruan, Kiai ‘Abd Allah masih aktif berkorespondensi dengan keluarga Kiai Khalil dan sering mengirimkan hadiah kitab ke Bangkalan (Salah satunya naskah mathbu’ qadim Tafsir Alquran yang ada di Jangkebuan, rumah pertama Kiai Khalil, saya lihat parateksnya menyebutkan hadiah dari ‘Abd Allah b. Yasin Al-Fasuruhani).
(V)
Kiai Hasyim Asy’ari (w. 1947 M), KH. Abd al-Wahid Hasyim (w. 1953 M)
Kiai Wahid Hasyim memang tak pernah mengaji di Bangkalan secara langsung. Namun dalam buku Sedjarah Hidup K.H.A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar karya Aboebakar Atjeh yang diterbitkan Kemenag RI thn. 1957 ditulis bahwa Nyai Nafiqah bernazar jika anaknya lahir dgn sehat, maka ia akan membawanya sowan ke guru suaminya, Kiai Khalil, untuk meminta doa.
Tatkala bayi itu lahir dengan sehat, Nyai Nafiqah segera membawa bayi laki-laki pertamanya yang berusia tiga bulan itu naik kereta menuju Surabaya. Dari Surabaya ia menaiki kohar, dokar khas Madura, menyeberangi pelabuhan Kamal untuk menuju Demangan, kediaman Kiai Khalil. Ia sampai kediaman sang kiai pada sore menjelang malam. Kiai Khalil, tulis Aboebakar Atjeh, muncul dari balik pintu dan berkata dalam Bhs Madura yang artinya: “Kalian tidak saya izinkan masuk tapi juga tidak saya izinkan pergi.”
Hujan mulai turun. Sejurus kemudian badai menerpa. Nyai Nafiqah meletakkan Wahid Hasjim di teras rumah. Kiai Khalil yang memperhatikan dari dalam kediaman muncul dan melarang bayi itu berteduh di bawah atap rumah. “Pada waktu tersiar berita ketjelakaan auto antara Bandung – Tjiamis,” tulis Aboebakar, “orang tua-tua mentjari hubungannja dengan tjara yang aneh pada waktu ia masih ketjil dibawa jang pertama kali oleh ibunja menghadap K. Cholil itu di Madura.”
(VI)
Selain nama tersebut di atas, masih ada banyak nama bapak-anak yang nyantri kepada Kiai Khalil. Di antara nama itu adalah: Kiai Hasan Sepuh Genggong dan putranya, Kiai Nahrawi. Kiai Syamsul Arifin dan putranya, Kiai As’ad. Kiai Saleh Tambak Agung dan putranya, Kiai Ismail. Kiai Ahmad Dahlan Termas dan putranya, Kiai Ahmad Al-Hadi. Kiai Rawi Mancengan dan putranya, Kiai Tholhah (Kiai Tholhah ini yang mendampingi tatkala Kiai Khalil wafat).
Penulis: Gus Kholili Kholil, Peneliti Sejarah Syaikhona Kholil Bangkalan


Comment here