HikmahKEISLAMAN

Amalan Sunnah di Hari Idul Fitri yang Perlu Diamalkan

Amalan Sunnah di Hari Idul Fitri yang Perlu Diamalkan

nubangkalan.or.id—Idul Fitri bukan sekadar perayaan setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momen kembali ke fitrah, saat hati diharapkan bersih dan jiwa kembali jernih. Namun, di tengah euforia hari raya, tak jarang kita lebih sibuk dengan hal-hal lahiriah, sementara amalan sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW justru terlupakan. Padahal, sunnah-sunnah inilah yang menyempurnakan makna kemenangan di hari yang fitri.

Salah satu amalan yang dianjurkan adalah mandi sebelum melaksanakan shalat Id. Amalan ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan lahir sebagai bagian dari kesiapan batin dalam beribadah.

Kesunahan mandi sebelum pelaksanaan shalat Id tidak hanya tertuju kepada orang yang hendak melaksanakan shalat, melainkan juga disunahkan bagi mereka yang tidak melaksanakanya. Simak kutipan berikut:

ويسن الغسل يوم عيد الفطر، ويم عيد الأضحى، لمن أراد أن يحضر الصلاة ولمن لم يحضر، لأن يوم العيد يوم زينة، فسنَّ الغسل له

Artinya: “Disunnahkan mandi pada hari Idul Fitri dan hari Idul Adha, baik bagi orang yang ingin menghadiri shalat (Id) maupun yang tidak mengikutinya. Karena hari raya adalah hari berhias, maka disunnahkan mandi untuknya.” (Al-Fiqh Al-Manhaji, jilid 1, hal. 85).

Keterangan di atas berlandaskan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’:

أن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما كانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الفِطْرِ، قَبْلَ أَنْ يَغْدُو إلى المُصَلَّى.

Artinya: “Dari Abdullah Bin Umar, ia mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke tempat shalat.” (HR. Imam Malik)

Selain itu, mengenakan pakaian terbaik juga menjadi bagian dari sunnah, termasuk memotong kuku, rambut, serta menjaga kebersihan tubuh. Rasulullah memberikan teladan untuk tampil rapi dan bersih sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah. Berikut landasannya:

وروي عن الحسن بن علي: أنه قال: أمرنا رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أن نتنظف ونتطيب بأجود ما نجد في العيد ويستحب أن يتنظف، ويقلم أظفاره، ويحلق الشعر – كما قلنا في يوم الجمعة – ويلبس أحسن ثيابه

Artinya: “Diriwayatkan dari Hasan bin Ali, ia berkata: ‘Rasulullah memerintahkan kami untuk membersihkan diri dan memakai wewangian terbaik yang kami miliki pada hari raya.’

Dan dianjurkan untuk membersihkan diri, memotong kuku, serta mencukur rambut—sebagaimana yang telah dijelaskan pada hari Jumat—dan mengenakan pakaian terbaiknya.” (Al-‘Imrani, Al-Bayan fi Madzhab Asy-Syafi’I, jilid 2, hal. 627).

Berbeda dengan Idul Adha, pada Idul Fitri disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat. Hal ini menjadi tanda bahwa ibadah puasa telah benar-benar selesai.

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

Artinya: “Nabi tidak berangkat shalat Idul Fitri sebelum makan beberapa butir kurma.”
(HR. Bukhari)

Suasana Idul Fitri juga semakin hidup dengan lantunan takbir yang dikumandangkan sejak malam hingga pelaksanaan shalat Id. Takbir bukan hanya tradisi, tetapi bentuk pengagungan kepada Allah atas petunjuk dan keberhasilan dalam menjalani puasa Ramadhan. Senada dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah:

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ

Artinya: “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Rasulullah juga menganjurkan umatnya untuk berangkat lebih awal menuju tempat shalat, menunjukkan semangat dalam beribadah dan keinginan untuk meraih keutamaan. Bahkan, jika memungkinkan, beliau mencontohkan untuk berjalan kaki menuju tempat shalat.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا

Artinya: “Rasulullah keluar menuju shalat Id dengan berjalan kaki.” (HR. Ibnu Majah)

Hal menarik lainnya yang diajarkan Rasulullah adalah mengambil jalan yang berbeda saat pergi dan pulang dari tempat shalat. Hal ini mengandung hikmah yang dalam, salah satunya memperluas syiar Islam dan memperbanyak interaksi dengan sesama.

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Artinya: “Nabi ketika hari raya menempuh jalan yang berbeda (saat pergi dan pulang).” (HR. Bukhari)

Tidak kalah penting, Idul Fitri adalah momen terbaik untuk mempererat silaturahmi. Saling memaafkan, mengunjungi keluarga, dan memperbaiki hubungan yang sempat renggang menjadi bagian dari keindahan hari raya yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, Idul Fitri bukan hanya tentang kemeriahan, tetapi tentang bagaimana kita menjaga nilai-nilai Ramadhan tetap hidup dalam keseharian. Sunnah-sunnah yang diajarkan Rasulullah bukan sekadar anjuran, melainkan jalan untuk menyempurnakan ibadah dan memperindah makna hari kemenangan. Wallahu A’lam Bisshawab.

Penulis: Ustadz Amir Ibrahim, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam, Tepa’nah Barat Durjan, Kokop, Bangkalan.
Editor: Syifaul Qulub Amin, Pengurus LTN PCNU Bangkalan.



Comment here