
nubangkalan.or.id—Dalam riwayat oral dari sesepuh yang saya kumpulkan, Kiai Khalīl Bangkalan disebut-sebut tak banyak bicara. Pasca pindah ke Demangan—yakni saat beliau pulang haji ketiga tahun 1310 H / 1892 M bertepatan saat haji akbar [1]—aktivitas sehari-hari beliau selain mengajar adalah menemui tamu yang tak henti-hentinya datang. Karena beliau tak suka berbicara banyak-banyak, maka beliau pun membeli kereta kuda alias dokar. Beliau punya kusir favorit yang bernama Suwono dari Banyuwangi. [2]
Setiap bakda Asar, Kiai Khalīl menaiki dokar sambil membaca Alquran. Beberapa orang menduga kuat bahwa tujuannya keliling naik dokar adalah menghindari banyak bicara dengan tamu-tamu. [3] Tak hanya itu, dalam mengajar pun beliau tak banyak bicara. Michael Laffan menyebutkan bahwa santri-santri Mbah Khalīl adalah santri senior dan mereka pergi ke Madura untuk mempelajari ‘advanced Arabic grammar’. [4] Maka logis jika Mbah Khalīl tak banyak bicara ketika mengajar.
Konsep cara mengajar Mbah Khalīl di pesantrennya yang irit bicara ini secara kompak direkam oleh dua muridnya, KH. ʿAbd al-Karīm Lirboyo dan Syaikh Sālim b. Muḥammad Garut. Saya menemukan bahwa keduanya mencatat dua bait syair yang dinisbatkan kepada Mbah Khalīl. Syair itu berbunyi:
إذا ما شئت علّم بالإشاره * وإن لم ينتبه زده عباره
وإن لم يعترف من ذا ولا ذي * فاضربه بمسوقة الحمارة
“Jika mengajar, maka ajarilah dengan isyarat. Jika masih belum paham, tambahi ibarat. Jika masih belum paham-paham, maka pukul dengan cambuk kuda.” [5]
Kebiasaan menggunakan isyarat dan irit bicara ini tak hanya dalam kehidupan sehari-hari. Kiai Maḥfūzh Hādī merekam sebuah kisah bahwa tatkala Mbah Khalīl pulang dari Makkah dan transit di Pelabuhan Betawi, ia mengirim telegram pada menantu kesayangannya: Kiai Ṭāhā. Isi surat itu adalah: Kaljamis. Lama Kiai Ṭāhā mengangan-angan maksudnya namun tak paham jua. Akhirnya, Raden ʿIzz al-Dīn, menantu Kiai Ṭāhā, berhasil memahami dan artinya adalah: kapal dhapa’ Sorbhajah Areh Kamis, alias: kapal bersandar di Surabaya hari Kamis. [6]
Kisah serupa saya dapatkan dalam korespondensi antara Mbah Khalīl dengan Syaikh Nawawī Banten. Lain kesempatan saya tulis kisah ini.
Penulis: Gus Kholili Kholil
[1] Catatan pribadi Kiai Imām Karay (w. 1921 M)
[2] Catatan Kiai Suḥaymī Rafīʿ al-Dīn Banyuwangi (w. 1982 M, lihat foto ketiga)
[3] Berjuang di Tengah Gelombang, KH. Maḥfūzh Hādī hlm. 54
[4] Michael Laffan, The New Turn to Mecca, hlm. 28
[5] Parateks di kitab Ibn ʿAqīl milik KH. ʿAbd al-Karīm Lirboyo dan catatan dari kitab Syaikh Sālim b. Muḥammad Garut. Nama terakhir ini adalah murid Mbah Khalīl, begitu juga ayahnya, Syaikh Muḥammad (untuk Syaikh Muḥammad sbg murid Mbah Khalīl lihat catatan Snouck Hurgronje dalam Or. 7931). Mengenai syair kedua murid Mbah Khalīl, lihat foto pertama dan kedua.
[6] KH. Maḥfūzh Hādī, hlm. 66. Kisah serupa juga diceritakan oleh Kiai Syamsuddin Cholily, bahkan beliau menyebutkan dulu surat itu ada.


Comment here