
nubangkalan.or.id—Sabar adalah sifat mulia yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang bijaksana dalam menjalani hidup. Tak berat, namun tidak mudah. Sabar bukan sekedar menerima nasib atau diam saat dicaci-maki, melainkan terbagi menjadi beberapa macam yang setiap bagiannya menentukan derajat kemuliaan bagi pemiliknya.
Siapapun pasti ingin memiliki sifat sabar, hanya saja terkadang emosi yang memuncak atau ujian hidup yang menghantam begitu dahsyat membuatnya lupa akan kesadaran hingga melampiaskan amarahnya. Sifat sabar sangat layak dan harus dilatih sehingga kita berstatus orang yang bersabar. Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ
Artinya: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal [8]: 46).
Jadi, orang yang mampu mengaplikasikan sifat sabar pada dirinya, tentu dia dalam penjagaan Allah dan Allah sendiri yang akan membalas kesabarannya dengan kebaikan yang jauh lebih besar.
Dalam literatur kitab kuning disebutkan bahwa sabar ada tiga macam, yaitu (1) sabar menjalani ketaatan kepada Allah, (2) sabar menjaga diri dari larangan-Nya, dan (3) sabar menerima takdir-takdir-Nya.
Terlihat berat jika dibayangkan sekilas, tapi akan ringan jika dijalani secara bertahap. Dengan melaksanakan puasa Ramadhan, kita telah berlatih menanamkan tiga macam sabar itu sekaligus dalam diri kita.
Hal tersebu sangatlah rasional karena orang-orang yang berpuasa sedang menjalani ketaatan kepada Allah, di saat yang sama mereka juga menjaga diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa yang merupakan larangan-Nya, di samping itu mereka belajar menerima letih dan lemahnya tubuh sebagai bagian dari ketentuan Allah.
Penjelasan ini terekam dalam kitab Latha’if Al-Ma’arif, sebagaimana redaksi berikut:
والصّبر ثلاثة أنواع: صبر على طاعة الله، وصبر عن محارم الله، وصبر على أقدار الله المؤلمة. وتجتمع الثلاثة كلّها في الصوم؛ فإنّ فيه صبرا على طاعة الله، وصبرا عمّا حرّم الله على الصّائم من الشّهوات، وصبرا على ما يحصل للصّائم فيه من ألم الجوع والعطش، وضعف النفس والبدن.
Artinya: “Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah, dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang menyakitkan.
Ketiganya terkumpul dalam ibadah puasa. Di dalam puasa terdapat kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam menahan diri dari hal-hal yang Allah haramkan bagi orang yang berpuasa berupa syahwat, serta kesabaran atas apa yang dialami oleh orang yang berpuasa berupa lapar dan dahaga, serta kelemahan jiwa dan badan.” (Ibnu Rajab, Latha’if Al-Ma’arif, jilid I, hal. 269).
Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa orang yang berpuasa Ramadhan tidak hanya mendapatkan pahala dari ibadah puasanya, melainkan mereka juga akan dibalas dari sisi mengaplikasikan tiga bentuk kesabaran pada dirinya secara bersamaan.
Kesimpulan ini juga senada dengan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 120 sebagai berikut:
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ لَا يُصِيْبُهُمْ ظَمَاٌ وَّلَا نَصَبٌ وَّلَا مَخْمَصَةٌ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَطَـُٔوْنَ مَوْطِئًا يَّغِيْظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُوْنَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلًا اِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهٖ عَمَلٌ صَالِحٌۗ
Artinya: “Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah; tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir; dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan.” (QS. At-Taubah [9]: 120).
Jadi, yang harus kita perhatikan dalam berpuasa bukan hanya tentang menahan lapar atau haus, melainkan bagaimana puasa yang kita Jalani tetap selaras dengan tuntunan syariat Islam, yaitu sekiranya kita benar-benar dapat mengaplikasikan tiga bagian sabar itu sekaligus.
Ada sepenggal hadis yang cocok untuk dijadikan pedoman oleh setiap Muslim yang sedang berpuasa:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
Artinya: “Puasa adalah perisai. Maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada seseorang memerangi atau mencacinya, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikianlah penjelasan tentang tiga bagian sabar dalam menjalani hidup yang ketiganya bisa sekaligus kita gapai hanya dengan melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan yang diajarkan oleh syariat. Wallahu A’lam Bisshawab.
Penulis: Ustadz Amir Ibrahim, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam, Tepa’nah Barat Durjan, Kokop, Bangkalan.
Editor: Syifaul Qulub Amin, Pengurus LTN PCNU Bangkalan.


Comment here