HikmahKEISLAMAN

Keistimewaan Puasa Ramadhan dan Pahala yang Melimpah

Keistimewaan Puasa Ramadhan dan Pahala yang Melimpah

nubangkalan.or.id—Di bulan penuh berkah ini, kaum Muslimin menjalankan ibadah puasa dengan kesabaran dan keikhlasan. Mereka rela menahan lapar dan dahaga, menerima letihnya jiwa, serta menjaga diri dari segala hal yang membatalkan dan mengurangi nilai puasa, demi menunaikan kewajiban kepada Tuhan mereka.

Pengorbanan semacam itu tentu tidak akan sia-sia. Ia akan dibalas dengan ganjaran yang setimpal, bahkan jauh lebih besar dari apa ya yang dibayangkan. Sebab Allah adalah sebaik-baik Pembalas amal, tiada tertandingi akan keadilan dan belas kasih-Nya.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ

Artinya, “Puasa adalah separuh kesabaran.” (HR Imam At-Tirmidzi dan Ahmad).

Hadis ini terasa begitu hidup dalam pengalaman orang yang berpuasa. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, mereka melatih diri untuk sabar dalam tiga hal sekaligus: sabar menjalankan ketaatan, sabar menahan diri dari maksiat, serta sabar menghadapi rasa lapar dan dahaga.

Di balik kesabaran luar biasa yang mereka lakukan, tentu akan mendapat balasan yang sebanding dengan apa yang mereka lakukan. Hal ini dapat kita pahami dari ayat Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 10:

إِنَّما يُوَفَّى الصّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسابٍ

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar [39]: 10).

Dalam kitab Tafsir At-Thabari dijelaskan mengenai ayat ini, bahwa nanti di akhirat Allah akan memberikan imbalan yang setimpal kepada orang-orang yang bersabar atas apa yang mereka jalani selama hidup di dunia. Imbalan yang akan diberikan kepada mereka tidak dapat ditakar ataupun ditimbang dengan apapun saking banyaknya. (Ibnu Jarir At-Thabari, Tafsir At-Thabari, Jilid XX, hal. 179).

Semua itu terbukti ketika kita merenungkan hadis berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ؛ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي

Artinya: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya; satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Kecuali puasa, karena sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya demi Aku.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Dari hadis ini bisa kita pahami bahwa semua amal perbuatan akan mendapatkan balasannya yang setara bahkan berlipat ganda. Lipat ganda dari amal perbuatan baik yang dimaksud adalah sepuluh kali lipat, kecuali puasa. 

Dalam hadis di atas, puasa menjadi pengecualian dari ibadah lain yang dibalas sepuluh kali lipat. Artinya, Allah akan melipatgandakan balasan ibadah puasa sesuai yang Allah kehendaki dengan jumlah yang tak dihitung dengan angka (saking banyaknya). Karena orang yang berpuasa rela menahan gemuruhnya syahwat, tantangan lapar dan tenggorokan yang kering kerontang. 

Dalam kitab Latha’if Al-Ma’arif, orang yang berpuasa justru diberikan harapan yang tidak biasa saja. Imam Ibnu Rajab menyebutkan bahwa mereka mendapatkan dua jenis kebahagiaan. 

Pertama, ia akan merasakan bahagia saat waktu berbuka puasa telah tiba. Ia akan merasa senang lantaran perihnya tenggorokan sudah akan terobati serta dapat menikmati semua hal yang sebelumnya dilarang karena berpuasa.

Kedua, orang yang berpuasa mempunyai harapan untuk bertemu Allah nantinya, dimana tak ada kebahagiaan yang lebih indah dibanding pertemuan seorang hamba dengan tuhannya. 

Mari simak penjelasannya:

للصّائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربّه، ولخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

Artinya: “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi.” (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha’if Al-Ma’arif, Jilid I, hal. 268).

Demikianlah gambaran tentang balasan tak terhingga bagi orang yang berpuasa. Semoga penjelasan ini menjadi penyemangat bagi kita untuk menjalani Ramadhan dengan kesungguhan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Wallahu A’lam Bisshawab.

Penulis: Ustadz Amir Ibrahim, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam, Tepa’nah Barat Durjan, Kokop, Bangkalan.
Editor: Syifaul Qulub Amin, Pengurus LTN PCNU Bangkalan. 

Comment here