
nubangkalan.or.id—Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Bangkalan menggelar kegiatan bedah buku Aswaja untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA. Kegiatan ini berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Bangkalan pada Selasa (28/10/2025).
Kegiatan kolaboratif dengan IPNU-IPPNU hingga Pergunu ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri yang diadakan PCNU Bangkalan bersama banom dan lembaganya.
Ketua PC LP Ma’arif NU Bangkalan, Moh Hafidz, menyampaikan bahwa kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dosen Institut Al Azhar Menganti Gresik, Moh Rifqi Rahman, dan Ketua LTNNU Bangkalan, Lora Asror Abdullah Balya.
“Peserta berjumlah sekitar 55 orang, terdiri dari delegasi kepala sekolah, guru, siswa, serta kader IPNU-IPPNU,” ujarnya.
Ia mengungkapkan pelaksanaan bedah buku ini sejalan dengan pedoman kerja LP Ma’arif NU, yaitu menjaga dan menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Karena tugas santri adalah menjaga faham Aswaja an-Nahdliyah.
“Melalui kegiatan kolaboratif ini, kami ingin membangun kesadaran kolektif di lingkungan pendidikan, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga siswa tentang pentingnya ajaran Aswaja sebagai materi ajar,” terangnya.
Hafidz menjelaskan, kegiatan ini mengusung dua pendekatan utama. Pertama, pendekatan doktrinal, yakni memahami Aswaja sebagai faham keislaman yang rahmatan lil alamin dan menjunjung tinggi akhlaqul karimah.
“Kedua, pendekatan pedagogis, yang menekankan pembelajaran kontekstual, terukur, bermakna, dan relevan dengan perkembangan zaman,” tambahnya.
Dirinya menuturkan, pembedah pertama fokus pada rekonstruksi penyampaian materi Aswaja agar lebih relevan dengan kondisi kekinian tanpa mengubah substansinya.
“Salah satu contohnya, ketika mengenalkan tokoh seperti Sunan Kalijaga atau KH Hasyim Asy’ari, guru tidak hanya menjelaskan biografinya, tetapi juga meminta siswa memerankan sosok tersebut bagaimana karakter, cara berdakwah, dan media dakwahnya jika hidup di masa sekarang,” jelasnya.
Menurut Hafidz pembedah kedua menekankan pentingnya sanad keilmuan dalam belajar agama Islam. Ilmu yang wajib dipelajari adalah tauhid, syariat serta akhlak.
“Ilmu juga harus diperoleh dari guru yang sanad keilmuannya bersambung hingga Rasulullah SAW. Hal ini telah dilakukan para kiai dan ulama di Jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” terangnya.
Hafidz menyebut dalam praktik ibadah seperti shalat tarawih yang memiliki dasar kuat dari masa Rasulullah, sahabat, hingga dikembangkan oleh para tabi’in serta diteruskan oleh kiai-kiai di Pondok Pesantren.
Pria yang juga dosen itu menambahkan, pentingnya bagi generasi muda untuk belajar kepada guru yang memiliki sanad keilmuan jelas dan membumikan nilai-nilai Aswaja melalui media kekinian tanpa mengubah isinya.
“Lembaga pendidikan di bawah LP Ma’arif berarti ikut menyelamatkan generasi mendatang, sesuai tujuan para muassis NU saat mendirikan LP Ma’arif,” tambahnya.
Pihaknya berharap hasil bedah buku aswaja ini dapat mendorong agar materi aswaja masuk dalam kurikulum nasional.
“Minimal, pemerintah pusat dapat memberi kewenangan kepada daerah agar Bupati bisa menetapkan materi Aswaja sebagai muatan lokal,” pungkasnya.
Penulis: Ryan Syarif Hidayatullah/Pengurus LTN PCNU Bangkalan
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan


Comment here