
nubangkalan.or.id—Dalam kehidupan ini, setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Sebagai makhluk yang lemah, kita sering terjatuh dalam perbuatan yang melanggar aturan Allah ﷻ, baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami jenis-jenis dosa agar dapat menghindarinya dan segera bertaubat jika terlanjur melakukannya.
Oleh sebab itu, Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul Khutbah Jumat: Jenis-jenis Dosa dalam Islam.
Khutbah Pertama
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ طِيْنٍ، وَأَحْسَنَ صُوْرَتَهُ بَيْنَ ٱلْعَالَمِيْنَ، وَجَعَلَ لَهُ الْقَلْبَ وَالْعَقْلَ وَٱلْعَيْنَيْنَ، نِعْمَةً عَظِيْمَةً لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَ يُسْأَلُ عَنْهَا يَوْمَ الدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلٰهٌ رَحِيمٌ كَرِيمٌ مُبِينٌ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَادِقُ ٱلْوَعْدِ أَمِيْنٌ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada satu pun di antara kita yang benar-benar terbebas dari perbuatan dosa. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
ﻛﻞ اﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺧﻄﺎء ﻭﺧﻴﺮ اﻟﺨﻄﺎﺋﻴﻦ اﻟﺘﻮاﺑﻮﻥ.
Artinya: “Setiap anak Adam pasti pernah berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi).
Perbuatan dosa adalah pelanggaran terhadap perintah dan larangan Allah ﷻ. Ketika seseorang melakukan dosa, maka sesungguhnya ia telah menjauh dari cahaya petunjuk dan mendekat kepada jalan kesesatan. Namun demikian, Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang selalu membuka pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali dan memperbaiki diri.
Agar seseorang dapat menjaga dirinya dari dosa, maka penting baginya untuk mengenal dan memahami jenis-jenis dosa dalam Islam. Ilmu ini bukan sekadar untuk diketahui, melainkan untuk diamalkan, agar seseorang dapat menghindari dosa-dosa besar yang membinasakan, serta tidak meremehkan dosa-dosa kecil yang jika dikumpulkan bisa menjerumuskan ke dalam murka Allah.
Maka dari itu, para ulama menjelaskan bahwa dosa dalam Islam terbagi menjadi tiga bagian, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
ذَنْبٌ يُغْفَرُ، وَذَنْبٌ لَا يُغْفَرُ، وَذَنْبٌ يُجَازَى بِهِ
Artinya: “Ada dosa yang diampuni, ada dosa yang tidak diampuni, dan ada dosa yang diberi balasan.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pertama, yang dimaksud dosa yang diampuni adalah amal perbuatan maksiat atau amal perbuatan yang menjerumuskan terhadap perbuatan dosa yang berhubungan dengan Allah ﷻ. Dan hal itu bisa diampuni oleh Allah ﷻ dengan cara istighfar dan bertaubat kepada Allah ﷻ, seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Munawi dalam kitabnya Faidul Qadīr, juz 2, halaman 565:
(ﺫﻧﺐ ﻳﻐﻔﺮ) ﺃﻱ ﻳﺮﺟﻰ ﺃﻥ ﻳﻐﻔﺮﻩ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺎﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻭاﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻗﺪ ﻳﻐﻔﺮﻩ ﺑﺪﻭﻥ ﺫﻟﻚ ﺃﻳﻀﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﻫﻞ اﻟﺤﻖ
Artinya: “Dosa yang diampuni yaitu dosa yang diharapkan akan diampuni oleh Allah Taala melalui istighfar dan taubat, dan bisa juga diampuni tanpa keduanya menurut mazhab Ahlul Haq (Ahlussunnah wal Jamaah).”
Adapun tata cara taubat adalah menyesali perbuatan dosa, melepaskan diri, berniat tidak akan mengulangi lagi, dan memohon ampunan. Jika dosa yang dilakukan adalah menlnggalkan kewajiban, maka harus menqadha’nya. Jika berhubungan dengan hak sesama manusia, maka harus melunasi dan memohon ridhanya. (Sullamut Taufiq, halaman 158).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Kedua, yang dimaksud dosa yang tidak diampuni adalah dosa syirik kepada Allah (menyekutukan Allah ﷻ atau menyembah, meminta dan menghamba kepada hal lain selain Allah). Dalilnya sebagaimana firman Allah ﷻ:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ٤٨
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa’: 48)
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Ketiga, dosa yang diberi balasan adalah dosa kezaliman dan kesalahan terhadap sesama, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Munawi dalam kitabnya Faidul Qadir, juz 3, halaman 566:
ﻭﺃﻣﺎ اﻟﺬﻧﺐ اﻟﺬﻱ ﻳﺠﺎﺯﻯ ﺑﻪ ﻓﻈﻠﻤﻚ ﺃﺧﺎﻙ
Artinya: “Dosa yang diberi balasan adalah kezalimanmu terhadap saudaramu.”
Maka sebab terbesar yang memasukkan orang-orang yang bertauhid ke dalam neraka adalah kezaliman terhadap sesama hamba. Karena catatan amal yang berkaitan dengan hak-hak hamba (dīwān al-‘ibād) adalah catatan yang tidak akan dibiarkan, maksudnya tidak akan diabaikan.
Adapun bagian dosa ini memerlukan penyelesaian (penebusan), baik di dunia dengan cara meminta halal (meminta maaf) atau mengembalikan hak secara langsung, atau di akhirat dengan mengalihkan pahala orang yang menzalimi kepada orang yang dizalimi, atau bahwa Allah ﷻ akan membuat orang yang dizalimi ridha dengan karunia, keutamaan, dan kelembutan Allah.
Bahkan, dalam sebagian atsar (riwayat), disebutkan bahwa seorang hamba benar-benar akan berdiri di hadapan Allah, dan ia memiliki pahala sebanyak gunung-gunung. Seandainya pahala itu tetap utuh baginya, niscaya ia akan termasuk penghuni surga.
Namun, datanglah orang-orang yang pernah ia zalimi, karena ia pernah mencela orang ini, mengambil harta orang itu, dan memukul orang lain. Maka pahala-pahalanya pun dikurangi (diberikan kepada mereka).
Lalu malaikat berkata, “Wahai Tuhan kami, semua pahalanya telah habis, sementara orang-orang yang menuntut masih tersisa.”
Maka dikatakan (kepada malaikat), “Ambillah dosa-dosa mereka, lalu timpakan ke atasnya, dan lemparkan dia ke dalam neraka dengan catatan itu (catatan dosa-dosa orang lain yang ditimpakan kepadanya).” (Faidul Qadir, juz 3, halaman 566).
Maka dari itu, marilah kita semua senantiasa menjaga diri dan berusaha untuk selalu menjauhi perbuatan dosa, baik dosa yang berhubungan dengan Allah ﷻ atau dosa yang berhubungan dengan sesama manusia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Penulis: Ibrahim, Alumni Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam Tepa’nah Barat, Durjan, Kokop, Bangkalan & Pegiat Bahtsul Masail MWC NU Tambelangan.
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan


Comment here