
nubangkalan.or.id—Ikhlas adalah salah satu amalan hati yang paling mulia dan menjadi syarat utama diterimanya amal ibadah di sisi Allah ﷻ. Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun akan kehilangan nilainya di hadapan-Nya. Maka Khutbah kali ini bertema “Khutbah Jumat: Meningkatkan Nilah Ibadah dengan Memahami Tiga Tingkatan Ikhlas”.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِأَنْوَاعِ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ الَّذِيْ جَعَلَهُ اللهُ خَيْرَ خَلْقِهِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ اَشْرَفِ عِبَادِهِ. أَما بعد: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Ikhlas bukanlah sifat yang tiba-tiba hadir tanpa usaha. Ia memerlukan pembinaan hati, mujahadah (kesungguhan melawan hawa nafsu), serta pemahaman yang mendalam tentang tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seiring perjalanan seorang hamba menuju Allah, tingkatan ikhlasnya pun akan meningkat, dari sekadar takut akan hukuman, berharap pahala, hingga mencapai tingkat tertinggi yaitu beribadah semata-mata karena Allah. Dalil yang menganjurkan tentang ikhlas adalah firman Allah ﷻ:
اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَۗ ٢
Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS Al-Zumar: 2).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Adapun makna ikhlas menurut para ulama adalah sebagaimana yang dikatakan Imam Hudzaifah al-Mar’asyi rahimahullah, yaitu:
الإِخلاصُ أن تستوي أفعالُ العبد في الظاهر والباطن.
Artinya: “Ikhlas adalah samanya kedudukan perbuatan hamba di dalam dhahir dan batin.”
Sedangkan menurut Abu al-Qasim al-Qusyairiy, ikhlas diartikan sebgaimana berikut:
اﻹﺧﻼﺹ ﺇﻓﺮاﺩ اﻟﺤﻖ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ اﻟﻄﺎﻋﺔ ﺑﺎﻟﻘﺼﺪ، ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﻳﺮﻳﺪ ﺑﻄﺎﻋﺘﻪ اﻟﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺩﻭﻥ ﺷﺊ ﺁﺧﺮ: ﻣﻦ ﺗﺼﻨﻊ ﻟﻤﺨﻠﻮﻕ، ﺃﻭ اﻛﺘﺴﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪﺓ ﻋﻨﺪ اﻟﻨﺎﺱ، ﺃﻭ ﻣﺤﺒﺔ ﻣﺪﺡ ﻣﻦ اﻟﺨﻠﻖ ﺃﻭ ﻣﻌﻨﻰ ﻣﻦ اﻟﻤﻌﺎﻧﻲ ﺳﻮﻯ اﻟﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.
Artinya: “Ikhlas adalah menjadikan Allah yang haq sebagai satu-satunya tujuan dalam ketaatan, yaitu keinginan hamba dengan mentaati-Nya bisa dengan mendekatkan diri kepada Allah Taala tanpa tercampur keinginan atau tujuan yang lain, seperti berbuat untuk makhluk atau ingin di puji orang lain , atau karena suka di puji makhluk atau tujuan-tujuan yang selain mendekatkan diri kepada Allah Taala.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Memahami tingkatan ikhlas sangat penting agar kita dapat menilai diri, memperbaiki niat, dan berusaha mencapai derajat tertinggi dalam beribadah. Sebab, semakin murni niat kita, semakin besar nilai amal di sisi Allah, walau amal tersebut kecil di mata manusia dan berupa pekerjaan dunia. Sebagaimana yang dikutip dalam kitab Ta’limul Muta’allim:
كم من عمل يتصور بصورة الدنيا فيصير من أعمال الآخرة بحسن النية, وكم من عمل يتصور بصور الآخرة فيصير من أعمال الدنيا بسوء النية
Artinya: “Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat.”
Bahkan, dijelaskan dalam kitab Ihyā’ Ulūmuddīn, juz 3, halaman 414, bahwa semua manusia akan celaka kecuali orang yang berilmu dan beramal dengan ikhlas, walaupun masih dalam kekhawatiran yang agung. Berikut redaksinya:
اﻟﻨﺎﺱ ﻛﻠﻬﻢ ﻫﻠﻜﻰ ﺇﻟﻰ اﻟﻌﺎﻟﻤﻮﻥ ﻭاﻟﻌﺎﻟﻤﻮﻥ ﻛﻠﻬﻢ ﻫﻠﻜﻰ ﺇﻻ اﻟﻌﺎﻣﻠﻮﻥ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻠﻮﻥ ﻛﻠﻬﻢ ﻫﻠﻜﻰ ﺇﻻ اﻟﻤﺨﻠﺼﻮﻥ ﻭاﻟﻤﺨﻠﺼﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺧﻄﺮ ﻋﻈﻴﻢ
Artinya: “Semua manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu. Semua orang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang yang ikhlas. Mereka yang ikhlas masih dalam kekhawatiran yang agung.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Dengan mengetahui tingkatan-tingkatan ikhlas membantu kita untuk selalu intropeksi diri dan menjaga niat. Dengan begitu, ibadah yang kita lakukan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga berkualitas tinggi di sisi Allah. Sebab, sebagaimana pohon membutuhkan akar yang kuat untuk tumbuh, amal pun membutuhkan akar ikhlas agar dapat bertahan dan berbuah manis di dunia maupun akhirat.
Adapun tingkatan-tingkatan ikhlas ada tiga, yaitu (1) tingkatan paling tinggi; (2) tingkatan pertengahan; dan (3) tingkatan rendah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Hāsyiah Al-Bujairamī ‘ala Al-Khatīb, juz 1, halaman 18:
ﺩﺭﺟﺎﺕ اﻹﺧﻼﺹ ﺛﻼﺙ: ﻋﻠﻴﺎ ﻭﻭﺳﻄﻰ ودنيا.
Artinya: “Tingkatan ikhlas itu ada tiga: tinggi, pertengahan, dan rendah.”
1. Tingkatan paling tinggi adalah:
ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ اﻟﻌﺒﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ اﻣﺘﺜﺎﻻ ﻷﻣﺮﻩ ﻭﻗﻴﺎﻣﺎ ﺑﺤﻖ ﻋﺒﻮﺩﻳﺘﻪ ﻻ ﻃﻤﻌﺎ ﻓﻲ ﺟﻨﺘﻪ ﻭﻻ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ ﻧﺎﺭﻩ، ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﻗﺎﻟﺖ ﺭاﺑﻌﺔ اﻟﻌﺪﻭﻳﺔ: ﻣﺎ ﻋﺒﺪﺗﻚ ﻃﻤﻌﺎ ﻓﻲ ﺟﻨﺘﻚ ﻭﻻ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ ﻧﺎﺭﻙ ﺇﻧﻤﺎ ﻋﺒﺪﺗﻚ اﻣﺘﺜﺎﻻ ﻷﻣﺮﻙ
Artinya: “Ketika seorang hamba beramal hanya untuk Allah semata, sebagai bentuk ketaatan kepada perintah-Nya dan pelaksanaan hak penghambaan-Nya, bukan karena mengharap surga-Nya dan bukan pula karena takut neraka-Nya. Oleh sebab itu, Rabi’ah al-‘Adawiyyah berkata: “Aku tidak menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu dan tidak pula karena takut neraka-Mu, melainkan aku menyembah-Mu semata-mata untuk menaati perintah-Mu.”
2. Tingkatan pertengahan adalah:
ﻭاﻟﻮﺳﻄﻰ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ اﻟﻌﺒﺪ ﻟﺜﻮاﺏ اﻵﺧﺮﺓ،
Artinya: “Ketika seorang hamba beramal demi mendapatkan pahala akhirat.”
3. Tngkatan paling rendah adalah:
ﻭاﻟﺪﻧﻴﺎ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ اﻟﻌﺒﺪ ﻟﻹﻛﺮاﻡ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭاﻟﺴﻼﻣﺔ ﻣﻦ ﺁﻓﺎﺗﻬﺎ، ﻭﻣﺎ ﻋﺪا ﻫﺬﻩ اﻟﺜﻼﺛﺔ ﺭﻳﺎء
Artinya: “Ketika seorang hamba beramal untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah di dunia dan keselamatan dari berbagai bencana di dalamnya. Adapun selain dari tiga tingkatan ini, maka itu termasuk riya’.”
Sedangkan tanda-tanda ikhlas adalah, sebagaimana yang disampaikan Syaikh Dzun Nun Al-Misry dalam kitab Adzkar An-Nawawi halaman 7, sebagi berikut:
ﺛﻼﺙ ﻣﻦ ﻋﻼﻣﺎﺕ اﻹﺧﻼﺹ: اﺳﺘﻮاء اﻟﻤﺪﺡ ﻭاﻟﺬﻡ ﻣﻦ اﻟﻌﺎﻣﺔ، ﻭﻧﺴﻴﺎﻥ ﺭﺅﻳﺔ اﻷﻋﻤﺎﻝ ﻓﻲ اﻷﻋﻤﺎﻝ، ﻭاﻗﺘﻀﺎء ﺛﻮاﺏ اﻟﻌﻤﻞ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ.
Artinya: “Adapun tanda-tanda keikhlasan ada tiga, yaitu: sama saja antara pujian dan celaan dari orang awam, melupakan pandangan terhadap amal dalam (melaksanakan) amal itu sendiri, dan hanya mengharap balasan amal di akhirat.”
Oleh karena itu, ikhlas menduduki posisi kunci dalam semua kegiatan kita. Mari kita selalu berusaha dan berdoa kepada Allah, semoga kita dipermudah oleh Allah dalam beribadah dengan balutan ikhlas lillāhi Ta’āla.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِماَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ
Khutbah Kedua:
الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Penulis: Ibrahim, Alumni Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam Tepa’nah Barat, Durjan, Kokop, Bangkalan & Pegiat Bahtsul Masail MWC NU Tambelangan.
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan


Comment here