
nubangkalan.or.id—Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita mendengar istilah “hari naas” atau “hari sial” yang dipercaya dapat membawa kemalangan atau keburukan. Istilah ini telah mengakar dalam berbagai budaya dan tradisi masyarakat. Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap kepercayaan akan adanya hari naas? Apakah ajaran agama Islam mengakuinya?
Hari naas atau hari sial adalah kepercayaan bahwa terdapat hari-hari tertentu yang membawa kemalangan, kesialan, atau energi negatif. Dalam berbagai budaya, kepercayaan ini sering dikaitkan dengan tanggal, hari dalam pekan, atau periode waktu tertentu yang dianggap tidak baik untuk melakukan aktivitas penting seperti pernikahan, perjalanan, atau memulai usaha.
Dalam ajaran Islam, konsep hari naas atau kepercayaan terhadap hari sial tidak diakui dan bahkan dilarang untuk diyakini. Walaupun terdapat ayat yang menyebutkan adanya hari naas, seperti dalam surah Al-Qamar ayat 19 yang menceritakan tentang peristiwa yang menimpa kaum ‘Ād.
Imam Baghawi dalam tafsir Ma’ālim at Tanzīl-nya menceritakan bahwa memang ada sebagian pendapat yang menafsirkan kalimat yawmi nahsin mustammir adalah hari Rabu terakhir bulan shafar. (Imam Al baghawi, Tafsīr Ma’ālim at Tanzīl, [Dar At-Thayyibah, 1997] Juz: 7, hal: 460).
Akan tetapi dalam beberapa kitab tafsir yang lain, salah satunya seperti yang disampaikan oleh Syekh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir dalam menafsirkan ayat yang sama, beliau menegaskan tidak ada hari tertentu yang memiliki sifat hari naas atau hari sial, bahkan tidak boleh mempercayai adanya hari sial tertentu, baik secara aturan hukum syariat dan agama. (Syekh Wahbah az-Zuhaili, Tafsīr Al-Munīr, [Damaskus: Dar Al-Fikr, 1991], Juz 27, hal. 162).
Selain itu, Islam dengan tegas menolak segala bentuk kepercayaan yang menisbatkan kebaikan atau keburukan kepada selain Allah ﷻ. Hal ini berdasarkan beberapa dalil dari Al-Quran dan hadis yang menjelaskan prinsip tauhid dan ketergantungan mutlak kepada Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Quran Surah Al-A’raf ayat 131 yang mengisahkan tentang kaum Fir’aun yang menganggap kedatangan Nabi Musa AS sebagai pembawa sial. Allah ﷻ menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah ketentuan-Nya, bukan karena faktor keberuntungan atau kesialan.
Demikian pula dalam Surah Yasin ayat 19, Allah ﷻ menjelaskan bahwa anggapan tentang nasib sial hanyalah prasangka buruk yang tidak berdasar. Segala takdir baik dan buruk datang dari Allah ﷻ semata.
Rasulullah ﷺ secara tegas melarang kepercayaan terhadap hari naas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abi Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
Artinya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (Imam Muhammad bin Ismail al Bukhari, Shahih Al-Bukhari, [Damaskus, Dārul Yamamah: 1993], juz 5, hal 2158).
Menurut Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, hadis di atas menegaskan penolakan Rasulullah ﷺ terhadap setiap penisbatan suatu kejadian kepada selain Allah ﷻ. Artinya, semua kejadian yang terjadi murni karena kehendak Allah ﷻ yang sudah tercatat sejak zaman azali, bukan disebabkan waktu, zaman, dan anggapan salah lainnya. Hadits ini juga termasuk menolak kepercayaan terhadap waktu atau periode tertentu yang dianggap membawa kemalangan, termasuk bulan Safar yang pada masa jahiliyah dianggap sebagai bulan yang penuh kesialan. (Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, Hāsyiah I’ānatut Thālibīn, [Dar Al Fikri, 1997], Juz 3, hal 382).
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini telah ditetapkan oleh Allah ﷻ dalam ilmu-Nya yang tidak terbatas. Konsep takdir atau qadar mengajarkan bahwa tidak ada yang terjadi tanpa seizin dan kehendak-Nya. Oleh karena itu, menganggap suatu hari atau waktu tertentu memiliki kekuatan untuk mendatangkan kebaikan atau keburukan adalah bentuk kesyirikan yang bertentangan dengan akidah Islam.
Kepercayaan terhadap hari naas dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan seorang Muslim, antara lain:
Merusak akidah: Kepercayaan ini dapat melemahkan keimanan kepada Allah ﷻ sebagai satu-satunya yang menentukan takdir dan nasib manusia;
Menimbulkan kegelisahan: Orang yang percaya pada hari naas akan hidup dalam ketakutan dan kecemasan yang tidak beralasan, sehingga mengganggu ketenangan jiwa;
Membatasi aktivitas: Kepercayaan ini dapat menghambat seseorang untuk melakukan kegiatan produktif karena takut akan kesialan yang mungkin menimpa; dan
Mengurangi tawakal: Kepercayaan terhadap hari naas dapat mengurangi sikap tawakal kepada Allah ﷻ dan meningkatkan ketergantungan pada hal-hal yang tidak memiliki dasar syariat.
Sementar itu, Islam mengajarkan beberapa prinsip dalam menyikapi kehidupan sehari-hari, antara lain:
Bertawakal kepada Allah ﷻ: Setelah berusaha maksimal, seorang Muslim harus menyerahkan hasil akhir kepada Allah ﷻ;
Berdoa dan berikhtiar: Memohon perlindungan dan keberkahan Allah ﷻ dalam setiap aktivitas yang dilakukan;
Optimisme: Islam mengajarkan untuk selalu berprasangka baik kepada Allah ﷻ dan optimis dalam menghadapi masa depan; dan
Tidak percaya takhayul: Menghindari segala bentuk kepercayaan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Kesimpulan
Islam dengan tegas menolak konsep hari naas atau hari sial. Kepercayaan semacam ini bertentangan dengan prinsip tauhid dan dapat merusak akidah seorang Muslim. Sebagai gantinya, Islam mengajarkan untuk senantiasa bergantung kepada Allah ﷻ, bertawakal, dan tidak terjebak dalam kepercayaan takhayul yang dapat mengganggu ketenangan hidup. Setiap hari yang Allah ﷻ ciptakan adalah baik, dan yang menentukan baik buruknya suatu peristiwa adalah Allah ﷻ semata, bukan hari atau waktu tertentu.
Dengan memahami ajaran Islam yang benar tentang takdir dan kehendak Allah ﷻ, seorang Muslim dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, produktif, dan penuh keyakinan kepada rahmat Allah ﷻ. Wallāhu a’lam!
Penulis: M. Syafik/Pengajar di Pondok Pesantren Nurul Cholil Demangan Barat Bangkalan, Asal Gunung Sereng, Kwanyar, Bangkakan
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan

Comment here