
nubangkalan.or.id—Mungkin sudah banyak literasi-literasi tentang sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), baik yang ditulis secara lengkap ataupun yang ditulis secara singkat namun mencakupi beberapa poin-poin pentingnya. Tokoh-tokoh penting dalam berdirinya organisasi terbesar di dunia ini juga tidak sedikit yang mencatat dan menulisnya termasuk peran Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai pemberi restu berdirinya NU.
Dari cerita yang disampaikan oleh salah satu pelaku sejarah, yaitu Hadratussyekh K.H. As’ad Syamsul Arifin Situbondo tentang penyampaian isyarah Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari, serta mencerna apa yang pernah disampaikan oleh K.H. Muhammad Makki Nasir Ketua PCNU Bangkalan di acara Podcast dengan NU Online Jawa Timur yang sudah lama tayang di Chanel Youtube NU Online Jatim, ternyata peran Syaikhona Kholil memang bukan sekedar pemberi restu tapi juga sebagai penanam pondasi gerakan di tubuh Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Kenapa demikian? Mari kita bahas satu persatu
Pertama, Isyarah tongkat yang disertai Surat Taha Ayat 17-21 :
وَمَا تِلۡكَ بِيَمِيۡنِكَ يٰمُوۡسٰى١٧ قَالَ هِىَ عَصَاىَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيۡهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَـنَمِىۡ وَلِىَ فِيۡهَا مَاٰرِبُ اُخۡرٰى ١٨ قَالَ اَلۡقِهَا يٰمُوۡسٰى ١٩ فَاَلۡقٰٮهَا فَاِذَا هِىَ حَيَّةٌ تَسۡعٰى ٢٠ قَالَ خُذۡهَا وَلَا تَخَفۡ سَنُعِيۡدُهَا سِيۡرَتَهَا الۡاُوۡلٰى ٢١
Artinya, “Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa! Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (QS. Thaha: 17—21).
Dari isyarah tongkat tersebut Syaikhona Kholil seakan berpesan kepada Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari bahwa organisasi yang ingin didirikan tersebut harus bisa menyatukan, menyatukan semua ulama-ulama se-Nusantara, menyatukan semua element masyarakat yang memiliki semangat yang sama dalam menjaga dan memelihara ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dalam kesempatan itu, Ketua PCNU Bangkalan juga menyampaikan bahwa tongkat itu simbol menyatukan bukan menseragamkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “menyeragamkan” berasal dari kata “seragam”, yang artinya corak, bentuk atau susunan.
Kita tahu bahwa setiap daerah memiliki budaya yang berbeda dan bahkan pesantren-pesantren yang ada di Indonesia memiliki sistem pembelajaran yang berbeda sehingga kalau harus diseragamkan maka meskinpun hal itu bisa terlaksana namun sulit sekali, sehingga pesan Syaikhona Kholil kepada Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari sebatas menyatukan tanpa mengubah gaya dakwah para ulama di daerahnya masing-masing.
Kedua, Ayat yang disertakan dalam isyarah tongkat itu berupa ayat 17—21 dalam Surat Taha. Kenapa harus ayat itu bukan ayat yang lain atau surat yang lain? Melalui ayat 17—18, kemungkinan Syaikhona Kholil menginginkan lahirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama seperti tongkatnya Nabi Musa AS yang memiliki banyak manfaat.
Seperti dalam ayat tersebut ketika Nabi Musa AS ditanya tentang sesuatu yang berada di tangan kanannya, beliau menjawab bahwa itu adalah tongkat yang dengan tongkat itu Nabi Musa AS bisa berpegangan dan dengan tongkat itu pula beliau memotong daun-daun untuk dijadikan makanan bagi domba-dombanya.
Artinya NU bukan hanya menjadi pegangan dan rujukan dari umat manusia, melainkan NU juga harus bisa memberikan manfaat kepada semua ummat sehingga lahirnya Lazisnu di dalam tubuh NU itu merupakan salah satu bentuk mengimplementasikan isyarah Syaikhona Kholil Bangkalan.
Selain hal itu, melalui Ayat 19—21, seakan Syaikhona Kholil juga berpesan kepada Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari agar organisasi yang ingin didirikan itu sewaktu-waktu perlu bergerak sebagai garda terdepan dalam melawan orang-orang yang ingin menerapkan faham-faham diluar faham Ahlussunnah wal Jama’ah dan orang-orang yang ingin merusak kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun demikian, yang perlu kita garis bawahi adalah kalimat خذها ولا تخف , bahwa gerakan atau kebijakan apa pun yang dilakukan oleh NU harus tetap dikendalikan oleh pemegang kekuasaan tertinggi NU yang dalam hal ini adalah Rais Syuriyah agar NU tetap berjalan sesuai keinginan para pendiri.
Ketiga, Isyarah Tasbih. Pada dasarnya tasbih sebagai gambaran dalam kehidipun manusia yang terangkai dari satu kesatuan yang berawal dan berakhir pada titik yang sama. Manusia harus menyadari bahwa yang menciptakan adalah Allah SWT dan akan kembali pula pada-Nya.
Dalam menjalani hidup, manusia tidak selamanya mulus dan sesuai keinginanya tentu banyak lika-liku kehidupan yang semuanya harus dijalani dengan kesabaran dan ketabahan. Perjalanan hidup yang panjang dan serat dengan problematikanya juga akan sampai kepada satu titik yaitu kematian. Dan pada saat itulah manusia akan kembali menghadap Allah SWT.
Begitupun dalam organisasinya sendiri, tentu perjuangan Nahdlatul Ulama tidak selamanya mulus sesuai dengan keinginan meskipun sudah disusun program-program yang yang baik dan rapi. Akan tetapi, jika masalah yang dihadapi dikembalikan kepada Allah SWT maka semuanya akan terasa ringan tanpa harus menimbulkan perpecahan.
Keempat, Isyarah yang disampaikan dalam bentuk wirid Ya Jabbar Ya Qahhar. Kita tahu bahwa Syaikhona Kholil bukan hanya ulama yang ‘ālim dan ‘allāmah, melainkan juga mukasyafah. Beliau mengetahui sesuatu sebelum terjadinya sesuatu tersebut. Dalam analisa asal-asalan penulis bahwa Syaikhona Kholil sudah tahu bahwa NU akan menjadi organisasi yang besar dan seksi sehingga kemungkinan NU akan disukai banyak orang baik yang ingin merusak NU dari dalam atau dari luar. Dan hal itu terbukti, NU menjadi organisasi terbesar di Indonesia bahkan di Dunia.
Dengan jumlah anggota yang begitu banyak tentu tujuan mereka juga bermacam-macam, ada yang benar-benar tulus untuk sebuah pengabdian ada juga yang punya tujuan yang lain. Lantas siapakah yang memiliki tujuan lain selain pengabdian? Hal itu bisa kita lihat bahwa mereka yang tujuannya untuk sebuah kepentingan pribadi atau sesaat akan lenyap dengan sendirinya dalam tubuh NU. Bahkan yang awalnya tokoh akan hilang ketokohannya, yang awalnya terkenal akan menjadi orang asing di kalangannya, yang awalnya cemerlang akan suram kehidupannya.
Selain itu, bisa kita lihat fakta sejarah di Indonesia bahwa organisasi-organisasi dan kelompok yang selalu bersebrangan dengan NU, semuanya akan lenyap dengan sendirinya. Ya Jabbar Ya Qahhar, “Siapa yang mengganggu NU, akan hancur,” kata Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari ketika menerima pesan Syaikhona yang dititipkan kepada Hadratus Syaikh KH. As’ad Syamsul Arifin.
Geger, 30 Juli 2025.
Penulis: Badrun Chotib, S.H/Sekretaris LTN PCNU Bangkalan, Sekretaris Bidang Kaderisasi PC GP Ansor Bangkalan, dan Ketua PAC GP Ansor Kec. Geger.
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan

Comment here