
nubangkalan.or.id—Diketahui bahwa bulan Muharram adalah salah satu bulan mulia di antara dua belas bulan yang ditetapkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya. Bulan yang dikenal dengan bulan Allah (syahrullah) ini memiliki latar belakang penting sebelum kemudian disebut dengan nama Muharram. Latar belakang ini juga tak kalah penting untuk kita ketahui bersama sebagai sarana untuk menjadi lebih ikhlas dalam mensyiarkan beberapa amalannya, mengingat imbalan yang terkandung di dalamnya sangat istimewa dan berharga.
Alasan Penamaan Muharram
Syekh Abu Bakr Muhammad Syatha memaparkan keterangan dalam kitab I’ānatuth Thālibīn yang mencerminkan bahwa alasan di balik penamaan bulan Muharram adalah karena di bulan itu Allah haramkan Iblis untuk memasuki surga-Nya. Berikut redaksi:
(قوله: وأفضلها) أي الأشهر الحرم المحرم – لخبر مسلم: أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم وإنما سمي محرما: لتحريم الجنة فيه على إبليس.
Artinya: “(Perkataannya: paling utamanya) bulan haram adalah bulan Muharram, karena ada hadis dari Imam Muslim bahwa paling utamanya puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram, dan dinamakan bulan Muharram karena Allah mengharamkan surga untuk Iblis bertepatan pada bulan itu.”
Kata Muharram berarti mengharamkan. Dalam bahasa Arab disebut masdar, dibentuk dari kata حرّم dengan mengikuti wazan فعّل, yang masdarnya berupa محرم. Kemudian Masdar itulah yang dijadikan nama untuk bulan ini, lantaran bertepatan dengan waktu mengharamkannya Allah kepada Iblis untuk masuk Surga.
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyebut alasan yang sedikit berbeda terkait hal ini. Beliau memaparkan bahwa yang mendasari penamaan bulan Muharram adalah kata Muharram sebagai penguat tentang diharamkannya berperang di bulan haram, di mana bulan ini adalah salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Berikut detail keteranganya:
وَعِنْدِي أَنَّهُ سُمِّيَ بِذَلِكَ تَأْكِيدًا لِتَحْرِيمِهِ ؛ لِأَنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تَتَقَلَّبُ بِهِ فَتُحِلُّهُ عَامًا وَتُحَرِّمُهُ عَامًا.
Artinya: “Menurutku, dinamai Muharram sebagai penekanan terhadap keharaman berperang di bulan tersebut. Karena kaum Arab dahulu mengubah-ngubah urutan bulan ini, mereka menghalalkan perang di suatu tahun, lalu mengharamkan di tahun berikutnya.”
Pendapat beliau ini berangkat dari kutipan keterangan dari yang Syaikh Alamuddin As Sakhawi yang mengatakan bahwa bulan ini dinamakan Muharram karena termasuk dari salah satu dari bulan haram.
Selain itu, sesuai dengan keterangan dari Syekh Abu Bakr Muhammad Syatha dalam kitab I’ānatuth Thālibīn, disebut bulan haram karena orang-orang Arab sejak dahulu sangat memuliakan dan mengagungkan empat bulan ini, serta yang paling mendasar adalah karena di empat bulan ini Allah melarang seluruh hambanya untuk berperang melawan orang kafir.
وإنما سميت حرما: لأن العرب كانت تتحرمها وتعظمها، وتحرم فيها القتال،
Artinya: “Dan dinamakan bulan haram, karena orang-orang Arab memuliakan dan mengagungkannya, serta di waktu itu diharamkan terjadi peperangan.”
Selain bulan Muharram termasuk dari salah satu empat bulan yang dimuliakan oleh Allah, bulan ini juga yang paling mulia di antara empat bulan yang lainnya untuk dibuat beribadah puasa di dalamnya, sebagaimana penjelasan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’īn berikut:
فرع أفضل الشهور للصوم بعد رمضان: الأشهر الحرم وأفضلها المحرم ثم رجب ثم الحجة ثم القعدة ثم شهر شعبان
Artinya: “(Cabang). Paling utamanya bulan untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan adalah di bulan haram, dan paling utamanya bulan haram adalah Muharram, kemudian Rajab, Dzulhijjah, dan Dzulqa’dah.“
Di samping itu, Rasulullah ﷺ lebih banyak berpuasa di bulan Syakban bukan di bulan Muharram, padahal penjelasannya, Muharram adalah yang lebih utama, maka Syekh Abu Bakr Muhammad Syatha juga memberikan kesimpulan bahwa hal itu berdasarkan beberapa alasan, misalnya karena beliau baru mengetahui keutamaan puasa Muharram di akhir hayatnya, atau karena ada udzur yang menghalangi beliau untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram. Berikut teks lengkapnya:
(فَإِنْ قِيلَ) فَقَدْ سَبَقَ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ أَفْضَلَ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ الْمُحَرَّمُ فَكَيْفَ أَكْثَرُ مِنْهُ فِي شَعْبَانَ دُونَ الْمُحَرَّمِ (فَالْجَوَابُ) لَعَلَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعْلَمْ فَضْلَ الْمُحَرَّمِ إلَّا فِي آخِرِ الْحَيَاةِ قَبْلَ التَّمَكُّنِ مِنْ صَوْمِهِ أَوْ لَعَلَّهُ كَانَتْ تَعْرِضُ فِيهِ أَعْذَارٌ تَمْنَعُ مِنْ إكْثَارِ الصَّوْمِ فِيهِ كَسَفَرٍ وَمَرَضٍ وَغَيْرِهِمَا
Artinya: “(Jika ditanyakan) sungguh telah lewat keterangan dalam hadis dari Abi Hurairah bahwa sesungguhnya paling utamanya waktu berpuasa setelah bulan Ramadhan adalah di bulan Muharram, lalu kenapa Rasulullah lebih banyak berpuasa di bulan Syakban bukan Muharram?
“(Jawabannya) mungkin saja Rasulullah ﷺ belum mengetahui keutamaan kecuali di akhir hayatnya sebelum kemudian memungkinkan untuk berpuasa, atau mungkin saja terdapat beberapa udzur yang menghalangi Rasulullah ﷺ untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram, seperti bepergian, sakit, dan lain sebagainya.”
Peristiwa-Peristiwa di Bulan Muharram
Masih keterangan dalam kitab yang sama, yaitu I’ānatuth Thâlibīn, Syekh Abu Bakr Muhammad Syatha memaparkan penjelasan tentang beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada bulan Muharram. Di antaranya adalah:
1. Allah menerima taubat Nabi Adam As. Tepatnya pada tanggal 10 Muharram;
2. Allah mengangkat Nabi Idris AS ke suatu tempat yang mulia (langit) sehingga mendapatkan derajat yang luhur;
3. Berlabuhnya perahu Nabi Nuh AS kerana banjir yang melanda seluruh alam. Hanya ada 40 keluarga termasuk manusia binatang yang selamat dari banjir tersebut;
4. Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari siksaan api raja Namrud;
5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa AS;
6. Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara Mesir;
7. Disembuhkannya Nabi Yakub AS dari kebutaan dan beliau dipertemukan kembali dengan Nabi Yusuf AS;
8. Dilenyapkannya mara bahaya yang menimpa Nabi Ayyub AS;
9. Allah mengeluarkan Nabi Yunus AS dari perut ikan paus;
10. Terjadinya peristiwa terbelahnya laut yang dilewati Nabi Musa AS dan Bani Israil pada waktu lari dari kejaran Fir’aun serta tentara-tentaranya;
11. Allah mengampuni dosanya Nabi Dawud AS;
12. Allah memberikan sebuah kerajaan kepada Nabi Sulaiman AS;
13. Allah mengampuni kesalahan Nabi Muhammad ﷺ mulai dari yang sudah dikerjakan, atau yang masih akan dikerjakan, meski kenyatannya beliau dijaga (ma’sum) dari perbuatan dosa;
14. Tepat pada tanggal 10 Muharram, Allah pertama kali menciptakan dunia;
15. Pada hari itu pula, Allah pertama kali menurunkan air hujan ke bumi;
16. Allah pertama kali menurunkan rahmat di bumi;
17. Pada hari Asyura Allah menciptakan ‘Arasy, Lauh al-Mahfudz, dan Qalam;
18. Pada hari itu, Allah menciptakan Jibril AS dan mengangkat Nabi Isa As; dan
19. Pada hari itu pula terjadinya kiamat.
Itulah beberapa penjelasan berkaitan dengan bulan Muharram yang penting untuk diketahui bersama. Semoga penjelasan di atas dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keikhlasan dalam menjalankan beberapa amalan pada bulan Muharram. Wallāhu a’lam bisshawāb!
Penulis: Amir Ibrahim/Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam Tepa’nah Barat Durjan Kolop Bangkalan Jawa Timur
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan

Comment here