
nubangkalan.or.id—Dalam perjuangan Rasulullah ﷺ menyebarkan ajaran Islam, banyak berbagai rintangan yang harus beliau hadapi, beragam cara penolakan kaum kafir yang sangat keji dan hanya mampu diatasi dengan kesabaran seorang nabi, semuanya berdatangan menghampiri beliau silih berganti. Namun, ancaman badai mengerikan seperti apa pun sama sekali tidak menggetarkan tekad kuat dan semangat Rasulullah ﷺ dalam mengemban amanah yang tersampaikan melalui wahyu-wahyunya, seribu badai yang datang beliau hantam dengan seribu solusi yang menguatkan jiwanya, mulai dari yang sekedar hinaan, tindakan zalim, atau bahkan perlakuan yang sampai menyebabkan nyawa beliau ikut terancam.
Salah satu ujian Rasulullah ﷺ yang sangat berat dalam mempertahankan dakwah Islam adalah di saat kaum kafir Quraisy ingin menghabisi nyawa beliau, peristiwa itu terjadi pada tahun 622 M, tepatnya pada tanggal 26 bulan Shafar.
Darun Nadwah sebagai titik kumpul kaum kafir Quraisy dari beberapa kabilah adalah saksi bisu terucapnya berbagai rencana jahat yang tujuannya satu, yaitu untuk membunuh Rasulullah ﷺ. Dalam perkumpulan itu, Abu Jahal bin Hisyam yang dikenal sebagai orang yang sangat membenci Rasulullah ﷺ mengusulkan agar setiap kabilah mengutus satu orang untuk menyerang dan membunuh beliau pada malam hari, rencana yang sedemikian akan membuat Bani Hasyim (keluarga nabi) kesulitan untuk membalaskan perbuatan mereka lantaran tidak tertuju pada satu kabilah, sekaligus agar peran di balik terbunuhnya Rasulullah ﷺ dapat terbagi di antara mereka, sehingga setiap kabilah sama-sama mendapat kepuasan.
Rencana itu kemudian diketahui oleh Rasulullah ﷺ lewat wahyu yang diturunkan kepadanya. Akhirnya, beliau berencana untuk hijrah ke Madinah, sebuah kota yang sudah damai dengan beliau dan ajarannya.
Secerdik dan secemerlang apa pun rencana jahat orang kafir, kepintaran dan keberuntungan Rasulullah ﷺ masih ada di atasnya. Pada saat suasana malam semakin gelap dan satu persatu penerang mulai lenyap, kafir Quraisy sudah siap menyergap sementara dzikir Rasulullah ﷺ tak berhenti terucap, dengan kekuatan iman dan kepercayaannya terhadap pertolongan Allah ﷻ, beliau memerintahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib menggantikan posisinya untuk tidur di tempat tidur beliau dengan ditutupi selimut. Hal tersebut bertujuan agar orang kafir tidak terburu-buru untuk membunuh Rasulullah ﷺ dengan mengira bahwa beliau masih tertidur, sementara itu beliau keluar secara diam-diam menemui Sayyidina Abu Bakar, sahabat yang telah menyempurnakan cintanya kepada beliau dan siap menemaninya dalam keadaan apa pun. Dengan pertolongan Allah, akhirnya beliau dan Abu Bakar berhasil keluar tanpa sepengetahuan orang kafir Quraisy.
Bukan karena melewati jalan tersembunyi, bukan pula menggunakan kekuatan gaib seorang nabi, tapi kehendak Allah lah yang membuatnya tidak terlihat dari pandangan kasat mata orang-orang kafir. Sebab, Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya melewati pintu biasanya yang seharusnya terlihat jelas oleh orang sekitar, tapi Allah membuat pandangan orang-orang kafir terhalangi dari keberadaan Rasulullah ﷺ waktu itu, hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat yasin ayat 9,
وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا فَأَغۡشَيۡنَٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ
Artinya: “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yasin [36]: 9)
Penulis: Amir Ibrahim/Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam Tepa’nah Barat Durjan Kolop Bangkalan Jawa Timur.
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan.

Comment here