Kajian HadisKEISLAMAN

3 Kunci agar Bisa Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat ala Nabi Muhammad ﷺ

3 Kunci agar Bisa Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat ala Nabi Muhammad ﷺ

nubangkalan.or.id—Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan mulai dari dunia hingga akhiratnya. Meski satu hal yang pasti, bahwa tidak seterusnya perjalanan hidup yang dilalui akan dipenuhi dengan kebahagiaan. Namun, dalam fase tidak bahagia bisa saja dibuat bahagia dengan membiasakan ketidakbahagiaan itu adalah sesuatu yang wajar dan melihatnya sebagai bagian dari kehendak Allah ﷻ.

Islam tidak melarang umatnya untuk tidak berbahagia, melainkan sebaliknya, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bisa merasakan kehidupan yang bahagia, tidak hanya diurusan akhirat saja, bahkan urusan dunia pun perlu untuk bisa bahagia. Sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال المنجيات ثلاث : خشية الله في السر والعلانية والقصد في الفقر والغنى والعدل في الرضا والغضب

Artinya: “Dari sahabat Abi Hurairah Ra bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘keselamatan atau kebahagiaan itu ada tiga; takut (taqwa) kepada Allah ﷻ  baik saat dalam keadaan sepi atau pun keramaian, bersikap sederhana baik saat fakir (tidak mampu) atau pun saat kaya, dan bersikap adil dalam keadaan ridha dan marah’.”

Kunci Pertama: Bertaqwa

Dalam hadis di atas, Nabi Muhammad ﷺ menjadikan taqwa sebagai kunci pertama agar bisa hidup bahagia, karena dengan bertaqwalah seseorang bisa menjalani hidup sesuai norma-norma yang sudah diperintahkan oleh Allah ﷻ, dan dengan taqwa juga seseorang akan sadar bahwa hidup ini sudah ada Dzat yang mengatur, Dzat yang Maha Pemberi nikmat.

Dan taqwa tidak hanya menjadi solusi untuk bisa menjalani hidup bahagia di dunia saja, melainkan juga bisa membuat kita mendapatkan kebahagiaan hingga kelak di akhirat sebagai balasan dari Tuhan, sehingga semakin bertaqwanya seseorang maka semakin besar potensi ia mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Kunci Kedua: Kesederhanaan

Di bagian kedua, Nabi Muhammad ﷺ menjadikan kesederhanaan sebagai kunci selanjutnya. Dengan hidup sederhana dalam situasi apa pun itu bisa membuat kita lebih tenang dan lebih nyaman. Sebab, dengan hidup sederhanalah kita bisa tidak terlalu berlebihan dalam urusan dunia, bukankah dunia ini adalah tempat Nabi Adam As dihukum? Sehingga bukan waktunya kalau kita mencari-cari kesenangan di dunia ini, yang harus dicari dan diperjuangkan itu adalah kebahagiaan yang berarti ketenangan.

Di bagian kedua ini juga beliau mengingatkan kita agar tidak hidup berlebihan saat dalam keadaan kaya, dan tidak terlalu merasa sengsara saat dalam keadaan miskin. Sebab, kaya atau miskin itu hanya lebel yang berasal dari luar diri kita, sedangkan untuk hidup bahagia, tidak perlu tergantung pada apa yang ada di luar kendali diri kita.

Ingat, harta yang kita miliki itu, kata Al-Quran, hanyalah cobaan, akan menjadi cobaan yang baik kalau kita mau bersyukur dan sebaliknya bila kita tidak mau bersyukur. Oleh karena itu, kita sangat dianjurkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam urusan dunia, tapi juga tidak ditekan, sehingga menyebabkan umat Islam melihat dunia sebagai sesuatu yang tidak disukai dalam agama. Harta yang baik akan membawa pada kebaikan akhirat jika digunakan dengan benar dan sesuai aturan syariat.

Kunci Ketiga: Interaksi Sosial

Sedangkan di bagian ketiga, Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan kita pentingnya interaksi sosial yang baik dengan anjuran berbuat adil, dalam keadaan atau suasana hati seperti apa pun itu. Sifat adil harus menjadi prinsip hidup umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari, karena tanpa sifat adil akan membawa umat manusia dalam keterpurukan, sebab tanpa adanya sifat adil, hukum hanya akan menjadi senjata untuk menikam, bukan untuk menyelesaikan persoalan.

Oleh karena itulah sifat adil itu penting dijadikan prinsip hidup umat Islam, karena dengan demikian akan terjalin interaksi sosial yang baik. Sebab, kebahagiaan yang sifatnya untuk akhirat saja itu tidak akan lengkap jika tidak disertai dengan kebahagiaan dunia, dalam hal ini adalah menjalin interaksi sosial yang baik terhadap siapa pun dan dalam situasi apa pun.

Pada akhirnya, Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk mengejar akhiratnya saja untuk bisa merasakan bahagia, sehingga menyebabkan pemeluknya anti terhadap urusan dunia. Bahkan sebaliknya, untuk terciptanya kebahagiaan yang nyata, harus bisa terpenuhi kebahagiaan dunia-akhirat, dalam hal ini tentu perlu adanya keseimbangan antara interaksi para pemeluk agama Islam dengan Tuhannya, serta interaksi mereka antara sesamanya. Wallāhu a’lam!

Penulis: M. Syafik, Pengajar di Pondok Pesantren Nurul Cholil Demangan Barat Bangkalan, Asal Gunung Sereng, Kwanyar, Bangkakan
Editor: Syifaul Qulub Amin, Pengurus LTN PCNU Bangkalan

Comment here