
Kian tahun jumlah petani makin berkurang. Padahal profesi di sektor pertanian sangat penting bagi kelanggengan pakan di negara kita. Generasi muda kian tidak tertarik dengan profesi bertani. Islam sendiri melalui lisan Rasul-Nya menegaskan bahwa profesi menanam dan bertani akan menuai pahala yang tiada henti, atau biasa disebut dengan pahala jariah. Maka, Judul Khutbah Jumat kali ini adalah: “Khutbah Jumat: Bertani Bisa Menjadi Ladang Sedekah.”
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِك. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِك. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَه. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيرْاً وَنَذِيْراً. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَاماً دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ جَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَ مَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖٓ اِذَآ اَثْمَرَ وَاٰتُوْا حَقَّهٗ يَوْمَ حَصَادِهٖۖ وَلَا تُسْرِفُوْاۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pertanian merupakan salah satu pilar terpenting dalam kehidupan manusia sejak peradaban awal. Dari aktivitas bercocok tanam, manusia memperoleh sumber makanan, bahan baku, dan penghidupan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, nilai pertanian tidak berhenti pada aspek ekonomi semata.
Dalam banyak budaya, termasuk masyarakat Indonesia yang mayoritas hidup di daerah pedesaan, bertani mengandung nilai sosial, moral, dan spiritual yang sangat tinggi.
Bertani bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan panen yang melimpah, tetapi juga tentang bagaimana hasil tersebut dapat memberi manfaat bagi sesama. Bahkan Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa bertani merupakan salah satu benteng teraturnya tatanan dunia
ﻭﻟﻴﺲ ﻳﻨﺘﻈﻢ ﺃﻣﺮ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﺇﻻ ﺑﺄﻋﻤﺎﻝ اﻵﺩﻣﻴﻴﻦ ﻭﺃﻋﻤﺎﻟﻬﻢ ﻭﺣﺮﻓﻬﻢ ﻭﺻﻨﺎﻋﺎﺗﻬﻢ ﺗﻨﺤﺼﺮ ﻓﻲ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ ﺃﺣﺪﻫﺎ ﺃﺻﻮﻝ ﻻ ﻗﻮاﻡ ﻟﻠﻌﺎﻟﻢ ﺩﻭﻧﻬﺎ ﻭﻫﻲ ﺃﺭﺑﻌﺔ اﻟﺰﺭاﻋﺔ ﻭﻫﻲ ﻟﻠﻤطعم
Artinya: “Urusan dunia tidak akan teratur kecuali dengan pekerjaan manusia. Adapun pekerjaan, keahlian, dan keterampilan mereka terbagi menjadi tiga bagian.
Yang pertama adalah pokok-pokok yang tanpanya dunia tidak akan tegak, dan pokok-pokok itu ada empat:
pertama, pertanian, yaitu untuk memenuhi kebutuhan pangan.” (Ihya’ Ulumuddin, Juz 1 Halaman 12).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Bertani mengajarkan manusia untuk dekat dengan alam dan lebih memahami kebesaran Tuhan melalui proses tumbuhnya tanaman. Benih kecil yang ditanam dapat berkembang menjadi tanaman besar yang menghasilkan banyak manfaat.
Dari proses tersebut, manusia belajar bahwa rezeki dapat datang melalui jalan yang sederhana, tetapi dapat memberikan dampak besar jika dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian, bertani tidak hanya memenuhi kebutuhan hidup petani, tetapi juga membuka peluang untuk menebar kebaikan yang terus mengalir bagi masyarakat.
Oleh sebab itu, bertani dapat dipandang sebagai ladang sedekah, juga sebuah jalan untuk mengumpulkan amal kebaikan. Dengan cara memanfaatkan hasil panen sebagai bentuk sedekah, petani berkontribusi tidak hanya pada aspek ketahanan pangan, tetapi juga pada pembentukan akhlak sosial yang mulia.
Konsep ini sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mengajarkan bahwa rezeki yang baik adalah rezeki yang memberi manfaat bagi orang lain. Pada akhirnya, bertani menjadi aktivitas yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga sarat dengan nilai spiritual keberkahan dan ladang sedekah. Rasulullah ﷺ bersabda:
ﻣﺎ ﻣﻦ ﻣﺴﻠﻢ ﻳﻐﺮﺱ ﻏﺮﺳﺎ، ﺃﻭ ﻳﺰﺭﻉ ﺯﺭﻋﺎ، ﻓﻴﺄﻛﻞ ﻣﻨﻪ ﻃﻴﺮ ﺃﻭ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺃﻭ ﺑﻬﻴﻤﺔ، ﺇﻻ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺑﻪ ﺻﺪﻗﺔ
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman atau menabur benih, lalu dari hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Bukhari).
Dalam Hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda:
ما مِن مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إلَّا كانَ ما أُكِلَ منه له صَدَقَةً، وما سُرِقَ منه له صَدَقَةٌ، وما أكَلَ السَّبُعُ منه فَهو له صَدَقَةٌ، وما أكَلَتِ الطَّيْرُ فَهو له صَدَقَةٌ، ولا يَرْزَؤُهُ أحَدٌ إلَّا كانَ له صَدَقَةٌ.
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim menanam suatu pohon, melainkan apa saja yang dimakan darinya menjadi sedekah baginya; dan apa yang dicuri darinya juga menjadi sedekah baginya; dan apa yang dimakan oleh binatang buas darinya adalah sedekah baginya; dan apa yang dimakan oleh burung pun merupakan sedekah baginya; dan tidaklah seseorang mengambil darinya sedikit pun, melainkan semuanya menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Muslim).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Imam Ahmad menjelaskan bahwa dengan bertani pahala di akhirat akan tetap diberikan kepada si penanam pohon, bahkan jika pohon atau tanaman yang ditanam dimanfaatkan atau dirusak oleh orang, binatang, atau burung. Selama penanamnya Muslim dan niatnya ikhlas, ia tetap mendapatkan ganjaran.
مَنْ نَصَبَ شجرةً فصبرَ على حفظِها والقيامِ عليْها حتى تُثْمِرَ فإِنَّ له في كُلِّ شيءٍ يصابُ مِنْ ثَمرِها صدقَةٌ عندَ اللهِ عزَّ وجلَّ
Artinya; “Barang siapa menanam sebuah pohon, lalu bersabar dalam menjaganya dan merawatnya hingga berbuah, maka sesungguhnya setiap sesuatu yang diperoleh dari buahnya menjadi sedekah baginya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Imam Ahmad).
Hal serupa juga dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh An-Nawawi ala Muslim, Juz 10, Halaman 213, sebagai berikut:
وفي هذه الأحاديث أيضا أن الثواب والأجر في الآخرة مختص بالمسلمين ، وأن الإنسان يثاب على ما سرق من ماله أو أتلفته دابة أو طائر ونحوهما
Artinya: “Dalam hadis-hadis ini juga dijelaskan bahwa pahala dan ganjaran di akhirat khusus untuk kaum Muslimin, dan bahwa seseorang akan diberi pahala atas apa yang dicuri dari hartanya atau yang dimakan/dirusak oleh binatang atau burung, dan semisalnya.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Kemuliaan dan pahala jariyah yang diberikan Allah swt ternyata tidak hanya bagi si penanam pohon saja. Akan tetapi orang yang merawatnya, mendistribusikan nya, atau menanam hanya untuk tujuan jual beli tetap mendapatkan pahala dan kemuliaan di sisi Allah.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Badruddin Aini dalam karyanya Umdatul Qari, beliau berkata:
حُصُوْلُ الأَجْرِ لِلْغَارِسِ وَالزَّارِعِ وَإِنْ لَمْ يَقْصُدَا ذَلِكَ، حَتَّى لَوْ غَرَسَ وَبَاعَهُ أَوْ زَرَعَ وَبَاعَهُ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ صَدَقَةٌ لِتَوْسِعَتِهِ عَلَى النَّاسِ فِي أَقْوَاتِهِمْ كَمَا وَرَدَ الأجْرُ لِلْجَالِبِ وَإِنْ كَانَ يَفْعَلُهُ لِلتِّجَارَةِ وَالاِكْتِسَابِ
Artinya: “Pahala diperoleh bagi yang menanam dan yang menggarap pertanian, meskipun tanpa sengaja. Sekalipun dia menanam atau bertani kemudian menjualnya, maka itu menjadi sedekah baginya sebab apa yang ia tanam menjadi penghidupan masyarakat. Begitupun bagi si pembawa hasil panen ada pahala, meskipun aktivitasnya ditujukan untuk berdagang dan mendapatkan penghasilan.”
Oleh sebab itu, menanam pohon dalam Islam bagian dari wujud ketakwaan dan tanggung jawab khalifah di bumi. Setiap pohon yang tumbuh subur menjadi saksi amal kebajikan penanamnya. Maka dari itu, mari kita hidupkan kembali semangat menanam untuk bumi yang hijau dan untuk amal yang terus mengalir hingga hari kiamat.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Penulis: Ibrahim, Alumni Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam Tepa’nah Barat, Durjan, Kokop, Bangkalan & Pegiat Bahtsul Masail MWC NU Tambelangan.
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan

Comment here