
nubangkalan.or.id—Dalam kehidupan wajar, tidak seorang pun bisa menikmati kebebasan sepenuhnya, karena setiap individu pasti tak lepas dari berbagai kewajiban serta tanggung jawab yang harus dipenuhi. Namun, di sisi lain kita juga mempunyai peluang untuk menentukan versi kehidupan kita di kemudian hari, dengan menata setiap kegiatan sejak dini, menjadi orang yang disiplin, memiliki bercita-cita, dan bersikap optimis, serta mampu mengelola waktu dengan efektif.
Waktu adalah aset berharga yang tidak dapat digantikan, mengelola waktu dengan baik adalah peran yang sangat penting dalam perjalanan seseorang menuju hari sukses, peluang belajar hari ini tidak bisa ditunda menjadi esok hari, karena berfungsinya setiap otak semua orang tidak pernah sama setiap harinya sehingga ilmu yang didapat pun juga akan berbeda sekalipun pada materi yang sama.
Perihal menjaga waktu dengan baik, terdapat hadis yang sangat memotivasi kita sebagai berikut:
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
Artinya: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Paparan hadis ini berusaha menyadarkan kita dari ketertipuan yang terlihat remeh namun sangat berbahaya, yaitu keadaan sehat dan adanya kesempatan. Banyak sekali orang yang sehari-harinya hanya seakan hidup mengikuti arus lingkungan, rata-rata berpedoman bahwa skenario hidup sudah diatur oleh Allah ﷻ dan tidak bisa di otak-atik.
Kebanyakan mereka tidak sadar hingga karunia sehat dari Allah ﷻ berubah menjadi sakit, dan kesempatan waktunya terbuang oleh kesibukannya karena umurnya yang mulai beranjak dewasa, dan pada akhirnya hanya ratapan penyesalan yang membuatnya gundah gulana.
Oleh karena itu, marilah bersama berusaha memanfaatkan waktu yang masih ada, meski mungkin sebagian besar telah hilang sia-sia. Tiada kata terlambat selagi kita mau memulainya daripada hanya meratapi nasib tanpa ada ujungnya yang justru memberikan ending tidak sesuai yang diangankan.
Pepatah yang tak kalah bijak bestari dikutip oleh Imam Al-Manawi dalam kitab Faidhul Qadir mengatakan:
اَلْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِذَا لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ
Artinya: “Waktu bagaikan pedang. Jika kau tidak (pandai) memainkannya, maka ia akan memotongmu.”
Kalam bijak ini seakan tidak hanya memotivasi kita, tapi sekaligus mengancam siapa pun yang lalai mengatur waktunya. Artinya, jika kita tidak berpandai-pandai mengatur waktu luang yang kita miliki, maka kesempatan itu akan hilang berganti moment yang tidak ada kepentingannya.
Makna yang terkandung di dalamnya tidak hanya dapat kita angankan kebenarannya, tapi bisa langsung terbukti secara kasat mata. Ketika kita tidak memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan tidak menjadwalkan kegiatan sehari-hari, justru akan terjerumus pada hal-hal yang tidak ada gunanya atau bahkan berdampak negatif untuk masa depan kita.
Terlalu banyak memainkan media dalam hal tidak penting, berlebihan men-scrolling media sosial, atau bahkan banyak nganggur dan overthinking, sehingga ide-ide sulit muncul dan cerahnya masa depan terhambat untuk terkabul.
Terdapat keterangan relevan yang juga erat kaitannya dengan pembahasan kali ini, terekam jelas dalam kitab Ayyuhāl Walad yang disusun oleh Imam Ghazali radiyallāhu ‘anhu. Berikut redaksinya:
عَلَامَةُ إِعْرَاضِ اللَّهِ تَعَالَى عَنِ الْعَبْدِ اِشْتِغَالُهُ بِمَا لَا يَعْنِيْهِ، وَإِنَّ امْرَأً ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنْ عُمُرِهِ فِي غَيْرِ مَا خُلِقَ لَهُ، لَجَدِيْرٌ أَنْ تَطُوْلَ عَلَيْهِ حَسْرَتُهُ، وَمَنْ جَاوَزَ الأَرْبَعِيْنَ وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ
Artinya: “Tanda berpalingnya Allah dari hambanya adalah ia disibukkan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, dan sesungguhnya orang yang telah kehilangan waktu dari umurnya untuk selain ibadah, tentu sangat layak baginya kerugian yang panjang. Barang siapa umurnya telah melebihi 40 tahun sementara amal kebaikannya tidak melebihi amal keburukannya maka bersiap-siaplah menuju neraka”.
Kandungan makna yang ada di dalamnya menggambarkan betapa akan sangat rugi orang-orang yang gagal memanajemen waktunya dengan baik serta keliru dalam mengkoordinir kegiatan setiap harinya, sehingga jika sampai umur empat puluh tahun perbuatan baiknya tidak mengungguli perbuatan jeleknya, kemungkinan besarnya adalah tempat kesengsaraan yang diungkapan dengan neraka.
Namun demikian, bukan berarti umur empat puluh tahun kemudian menjadi batas seseorang bisa memperjuangkan kesuksesannya, melainkan di umur berapapun sebenarnya mereka masih bisa memulainya, hanya saja peluang dan harapan berhasilnya mungkin lebih sedikit meski pada dasarnya semua tergantung kemauan dan usaha masing-masing.
Penulis: Amir Ibrahim/Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam, Durjan, Kokop, Bangkalan, Jawa Timur.
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan


Comment here