
nubangkalan.or.id—Segala puji hanya milik Allah ﷻ, Tuhan semesta alam yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bagian dari perjalanan menuju akhirat. Dialah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, yang dengan kehendak-Nya langit dan bumi ditegakkan, dan dengan kehendak-Nya pula manusia diciptakan dari tanah lalu akan kembali menjadi tanah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umat beliau yang istikamah dalam iman hingga hari kiamat.
Kematian adalah sebuah kepastian yang tidak bisa dihindari. Sebesar apa pun kekuatan, kekuasaan, atau harta yang dimiliki, tidak seorang pun mampu lari dari takdir Allah berupa kematian. Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan Hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (QS. Al Anbiya: 35).
Secara sunnatullah, jasad manusia setelah dikuburkan akan hancur dan kembali menyatu dengan tanah. Namun, Allah ﷻ memiliki kekuasaan penuh untuk menjaga jasad hamba-hamba pilihan-Nya agar tetap utuh dalam kubur, meskipun telah berabad-abad lamanya. Hal ini telah disebutkan dalam hadis Rasulullah ﷺ:
“إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ”
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Ibnu Majah).
Bukan hanya para nabi, bahkan ada sepuluh orang yang juga dimuliakan Allah dengan terjaganya jasad mereka dari kehancuran. Sebagaimana yang dikutip dalam kitab An-Nawadir, halaman 138, sebagai berikut:
فائدة في الاجساد التي لا تبلى ذكر أن عشرة لا تبلى أجسادهم الغازي والعالم والمؤذن وحامل القرآن والنبي والشهيد والمرأة اذا ماتت في نفاسها وأهل السنة ومن قتل مظلوما ومن مات يوم الجمعة.
Artinya: “Faedah tentang beberapa jasad yang tidak hancur. Disebutkan bahwa ada 10 jasad yang tidak hancur, yakni (1) orang yang berperang di jalan Allah SWT; (2) orang alim; (3) muadzin; (4) penghafal al Qur’an; (5) para nabi; (6) orang yang mati syahid; (7) perempuan yang mati saat menjalani nifas; (8) Ahlusunnah; (9) orang yang terbunuh karena dizalimi; dan (10) orang yang mati pada hari Jumat.
Hal ini bukan sekadar fenomena luar biasa, melainkan bukti kebesaran Allah yang menjadi tanda kekuasaan-Nya, sekaligus pelajaran yang sangat berharga bagi umat manusia. Adapun hikmah di balik ini semua adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadīr, juz 2, halaman 21 berikut:
تنبيه قال أبو الحسن المالكي في شرح الترغيب حكمة عدم أكل الأرض أجساد الأنبياء ومن ألحق بهم أن التراب يمر على الجسد فيطهره والأنبياء لا ذنب لهم فلم يحتج إلى تطهيره بالتراب
Artinya: “Pengingat: Imam Abul Hasan al-Maliki dalam kitab Syarah al-Targhīb menyebutkan bahwa hikmah bumi tidak menghancurkan jasad para nabi dan orang yang semisal dengannya (wali atau orang saleh) itu karena tanah yang melewati jasad (jenazah sampai menjadi tengkorak) itu bertujuan untuk mensucikannya dari dosa. Sementara itu, para Nabi tidak punya dosa. Karena itu, mereka tidak butuh penyucian dengan cara (penghancuran jasad) dengan debu.”
Oleh sebab itu, Fenomena jasad yang tidak hancur dalam kubur menyimpan hikmah. Ia mengajarkan bahwa amal saleh tidak akan sia-sia, bahwa kehidupan akhirat adalah benar adanya, dan Allah ﷻ memiliki cara-Nya sendiri untuk memuliakan hamba-hamba-Nya yang taat. Jasad yang utuh itu menjadi saksi kemuliaan, penguat keimanan, serta pengingat bagi kita semua agar semakin giat beramal saleh dan memperbaiki diri.
Penulis: Ibrahim/Alumni Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam Tepa’nah Barat, Durjan, Kokop, Bangkalan & Pegiat Bahtsul Masail MWCNU Tambelangan.
Editor: Syifaul Qulub Amin/Pengurus LTN PCNU Bangkalan

Comment here