
nubangkalan.or.id—Perkembangan media digital benar-benar telah mengubah banyak wajah kehidupan. Banyak ragam kegiatan yang kian berganti gaya tergerus kecanggihan teknologi, salah satunya adalah kegiatan dakwah.
Dakwah yang dulunya disampaikan secara klasik, dari mimbar ke mimbar, majlis ke majlis, kini sudah berpindah ke layar-layar kecil dalam genggaman tangan. Di era modern, dakwah sudah bukan sesuatu yang rumit, ia bisa dituangkan dalam bentuk postingan video pendek, story, kutipan singkat, bahkan sekedar caption.
Di satu sisi, perkembangan ini merupakan keunggulan dan kesempatan untuk menyampaikan dakwah dengan lebih mudah, memberikan peluang bagi siapapun untuk menyebarkan ilmu agama tanpa perlu menggelar acara atau membentuk majlis lainnya.
Hanya dengan satu kali klik, dakwah dalam konten dapat disaksikan oleh jutaan orang di seluruh dunia, bahkan bisa diputar berulang selama konten belum dihapus. Namun, di sisi lain hal ini justru menjadi tanda tanya, ketika dakwah menjadi konten, apa yang harus dijaga agar ia tidak kehilangan ruhnya?
Dakwah bukanlah sekedar aktivitas biasa, dakwah merupakan kegiatan ibadah dengan dalil yang jelas dalam Al-Qur’an. Tepatnya pada surat an-Nahl, Allah Berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
Artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125.).
Lewat ayat ini, allah menyerukan kepada hamba-Nya untuk senantiasa mengajak yang lain pada kebaikan dan kembali ke jalan Allah. Mengajak yang dimaksud bukanlah dalam bentuk paksaan atau dengan kekerasan, melainkan dengan perkataan-perkataan lembut dan motivasi yang baik, ajakan semacam ini kemudian terkenal dengan sebutan dakwah.
Jadi, dakwah bukanlah sekedar kegiatan biasa, melainkan sebuah ibadah yang juga mempunyai hal-hal yang penting untuk dijaga. Mulai dari cara menyampaikan, apa yang disampaikan, dan yang paling penting adalah niatnya, yaitu untuk menyebarkan ilmu agama.
Oleh karena itu, dakwah seharusnya tidak sesimpel yang kita pikirkan tatkala membuat konten, akan tetapi harus disertai kebijaksanaan dalam mengedit isi kontennya sesuai kebenaran, agar dakwah tidak berubah dari tujuan awal, yaitu menyebarkan ilmu agama.
Yang ditakutkan adalah, ketika dakwah masuk ke dunia konten, pendakwah akan tergoda untuk mengejar angka seperti views, likes, share, dan viralitas. Dari sinilah dakwah mulai berubah, dari ibadah menjadi sebuah pertunjukan. Tak lagi mengejar hidayah, tapi mencari perhatian. Bukan lagi tentang ikhlas, tapi tentang riya’ yang sudah melampaui batas.
Ketika sudah seperti ini, maka ruh daripada dakwah sudah hilang. Dakwah tak lagi menjadi ibadah, justru menjadi perbuatan yang tak lagi bernilai benar. Senada dengan yang sampaikan oleh Rasulullah SAW yang kemudian dijadikan kutipan oleh Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim:
كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا ويصير بحسن النية من أعمال الآخرة، وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية.
Artinya: “Banyak amal perbuatan yang berbentuk perbuatan dunia namun menjadi perbuatan akhirat disebabkan baiknya niat. Dan banyak amal perbuatan yang berbentuk perbuatan akhirat namun menjadi perbuatan dunia disebabkan jeleknya niat.” (Az-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim, jilid 1, hal. 68).
Dari kutipan diatas kita faham, bahwa niat benar-benar yang paling penting untuk diperhatikan karena dapat mengubah arah suatu perbuatan. Kita tidak hanya perlu melakukan hal-hal baik, tetapi juga perlu untuk menjaga agar sesuatu yang kita anggap baik tidak salah arah hanya karena keliru dalam mengaplikasikan niat. Seperti yang sudah kita ketahui bersama dari hadis nabi berikut:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.'” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).
Di era konten, niat sangat perlu untuk lebih diperhatikan karena mudah bercampur, antara ingin menyebarkan kebaikan atau ingin dikenal, antara ingin bermanfaat dan ingin dipuji. Di sinilah muhasabah itu penting, untuk meyakinkan bahwa niat kita dalam dakwah adalah untuk menyebarkan ilmu agama karena Allah, bukan sekedar popularitas.
Selain yang disebutkan diatas, sangat penting juga untuk diperhatikan dalam berdakwah adalah tatakrama dakwah. Dari awal sudah sempat disinggung bahwa dakwah harus dengan perkataan lembut atau cara halus lainnya.
Dakwah bukan arena untuk saling menjatuhkan, bukan pula panggung untuk saling merendahkan dan mengangkat derajat diri, melainkan aksi menyebarkan ilmu agama, merangkul mereka yang masih dalam kesesatan, dan mengajaknya menjadi pribadi yang lebih baik. Mari kita merenung bersama lewat ayat berikut:
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى
Artinya: “Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha, [20]: 44).
Pada ayat tersebut, Allah memerintahkan nabi Musa dan nabi Harun untuk berbicara kepada Fir’aun dengan lemah lembut. Jika kepada manusia seperti Fir’aun saja masih perintahkan berbicara dengan baik, maka apalagi kepada sesama orang muslim. Ayat tersebut dapat menjadi dalil dan gambaran akan seperti apa tata krama yang harus dipakai dalam berdakwah.
Dakwah yang dikemas dengan konten-konten kasar mungkin viral dan lebih menarik perhatian banyak penonton, namun seringkali kehilangan keberkahannya lantaran tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama.
Jadi, kesimpulan dari ungkapan diatas adalah, ketika dakwah sudah berbentuk postingan konten, maka bagaimana caranya agar dakwah tidak berubah dari tujuan awalnya. Niat dan tata krama dakwah sangat perlu diperhatikan agar dakwah tidak kehilangan ruhnya.
Dakwah tetaplah wadah untuk menyebarkan ilmu agama, menyerukan kebaikan, dan untuk membantu banyak orang dari ragam kerumitan. Tidak untuk memviralkan dan menjunjung diri sendiri ataupun menjatuhkan orang lain. Konten boleh dilihat banyak orang, tetapi niat harus tetap tertutup rapi dalam hati. Dengan begitu, dakwah akan bernilai ibadah dan tidak akan kehilangan ruhnya. Wallahu A’lam.
Penulis: Ustadz Amir Ibrahim, Pengajar di Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam, Tepa’nah Barat Durjan, Kokop, Bangkalan.
Editor: Syifaul Qulub Amin, Pengurus LTN PCNU Bangkalan.


Comment here